NHW #3: Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Memasuki Nice homework lagii…dan kali ini melibatkan Papayo untuk melihat responnya dari kejutan yang say berikan..Hehehe.

Soal:

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

===========================================================================

Jawaban:

  • Saya dan suami

Akhirnya saya berhasil bikin surat cinta buat suami. Hehe… Untuk memulainya sulit bener karena bingung yang mau disampaikan apa. Pada suatu malam di saat pak suami lagi tarawih ke masjid, saya coba untuk mulai menulis suratnya. Ternyata setelah memulai..lancaaaar banget kata-kata mengalir dan nggak terasa udah jadi 5 lembar kertas ukuran B5..hehe. Surat dimasukkan ke dalam amplop biru ditemani hadiah kecil berupa parfum, dipercantik pita biru. πŸ™‚

Pak suami baru ngeh keberadaan surat dan hadiahnya saat tengah malam dan saya sudah tertidur..hihi. Dan reaksinya setelah baca surat dan terima hadiah, dia datang ke saya, bilang terima kasih disertai kecupan 😊.  Keesokan harinya, hatinya berbunga-bunga.

20170602_204028-02.jpeg

  • Saya dan Anak-anak

Saya memiliki 2 orang anak perempuan, si kakak usia 4 tahun dan adik masih 4 bulan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari anak-anak. Awalnya saya nggak paham dengan konsep β€œanak adalah guru bagi orangtuanya”, ternyata seiring perjalanan membesarkan dan mendidik kakak dan adik, saya paham bahwa anak-anak inilah yg memberikan kami (orangtuanya) ujian agar kami lulus menjadi orangtua pada tiap tahapnya.

Saya pun mulai menyadari sifat, sikap, kode-kodean, dan potensi yang dimiliki anak sulung saya. Meskipun sampai saat ini saya masih terus belajar mengenal dan menggali potensi dalam diri anak-anak, termasuk si kecil yang masih usia 4 bulan.

Kakak memiliki sifat yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain. Dia tidak segan-segan mengajak bicara duluan orang lain yang bekerja di rumah, misal perawat kakeknya, mba art, pengasuh, atau bahkan tukang bangunan yang sedang renovasi rumah. Pun dia pun akan berbicara dengan orang lain di luar yang menyapa dia duluan, seperti pegawai toko, petugas bandara, dan lainnya. Ketika dia berbicara pun jelas dan bisa dimengerti dengan lawan bicaranya, meski masih terselip bahasa anak-anaknya. Hehe..

Kakak juga tipe pembelajar yang cepat, terutama dengan media audio-visual seperti televisi, youtube di smartphone, dan buku cerita bergambar yang dibacakan. Kami di rumah juga tidak menerapkan β€œbahasa bayi” jika berbicara dengan anak-anak sedari mereka masih bayi sekalipun. Dan ini mempengaruhi kakak dengan cara bicaranya yang cepat dan jelas jika berbicara.

Saya termasuk yang percaya bahwa anak-anak memiliki sisi seni dalam dirinya, sebab itu saya coba mengulik-ulik seni yang disukai kakak, dan saat ini saya melihat bahwa kakak suka sekali mewarnai dan kadang-kadang menggambar, meski yang menggambar masih tahap belajar. Hehe.. Tapi saya tetap puji apa pun hasil gambar dia yang berasal dari imajinasinya 😊

Si adik yang masih berusia 4 bulan, saya belum melihat potensinya. Yang saya pelajari adalah ko-kodean dia dalam kebutuhannya seperti saat dia haus mau mimi, saat dia mengantuk dan ingin digendong, saat dia sedang mempelajari sesuatu, saat dia sedang butuh stimulus apa sesuai dengan gerakan tubuhnya dan usianya, saat dia tidak nyaman dengan diapernya yang penuh dan sebagainya..insyaAllah saya sudah paham sebagian besar kode-kode dia meski masih banyak kode lainnya yang belum saya paham cara mengatasinya. Hahaha…

  • Saya dan Diri Sendiri

Bagaimana dengan diri saya? Hmm…selama ini saya hanya menonjolkan ketidakmampuan saya, karena saya tipe orang yang tidak percaya diri. Saya suka sekali menulis dari kecil, terutama menulis diary semacam di blog ini, karena saya tidak mampu berkata dengan baik dan lengkap saat komunikasi langsung dan spontan. Tapi melalui tulisan, saya mampu mengeluarkan isi pikiran saya.

Belakangan ini saya membenahi diri, mengingat usia yang semakin bertambah tua :D, saya juga belajar dari lingkungan sekitar. Akhirnya saya mulai mengenal diri saya sendiri, yakni saya yang senang bergabung dalam komunitas, saya yang berusaha menjunjung sikap jujur, saya yang ingin selalu terlihat ruangan rapi dan bersih, saya yang suka melakukan perencanaan, dan saya suka mendengarkan/membaca pengalaman orang lain sebagai inspirasi bukan membandingkan.

Meskipun saya bekerja, saya memprioritaskan keluarga diatas urusan pekerjaan kantor, sedangkan suami yang saya lihat lebih prioritas urusan pekerjaan (dan saat ini kuliahnya) daripada urusan keluarga. Tapi suami tetap bisa mengurus anak-anak, cuma yang lebih diandalkan dalam urusan anak-anak tetap saya sebagai ibunya..hehe.. Awalnya saya keberatan mengapa urusan anak-anak lebih diberatkan ke saya, sedangkan kami berdua sama-sama bekerja. Akhirnya saya pun menerima sebab masalah prioritas tadi. Pak suami biar konsentrasi di pekerjaannya dan saya yang mengurus rumah secara menyeluruh.

Pak suami juga tipe yang let it flow dan saya suka berencana, jadi untuk menghindari waktu luang terbuang sia-sia, saya suka merencanakan dengan kegiatan yang berkualitas bersama keluarga dan saya butuh dukungan pak suami untuk eksekusi dari perencanaan yang saya buat, karena saya lalai di kala eksekusi…hahaha.

Alhamdulillah anak-anak dekat dengan saya sebagai mama mereka, meski saya bekerja kantoran dan kadang-kadang dinas luar kota juga, sehari-hari mereka dirawat neneknya dan ada pengasuh sejak anak kedua lahir, tapi tetap saya idola mereka (senangnyaa…). Kakak juga cepat mandiri karena mamanya bekerja dan mudah akrab dengan orang lain.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang menomorsatukan ibadah dan ilmu agama sebagai bekal dasar. Alhamdulillah berkat kegigihan kedua orangtua dalam mengajarkan dan mengamalkan agama dalam keseharian, kami semua tetap giat belajar kajian agama hingga saat ini dan insyaAllah ibadah tidak sengaja ditinggalkan. Maka dari itu, saya pun ingin membesarkan dan mendidik anak-anak dengan bekal dasar ilmu agama Islam, dalam semua aspek. Semoga kelak mereka menjadi pribadi yang baik dan solehah/soleh.

  • Saya dan Lingkungan

Lingkungan yang saya definisikan di sini adalah rumah kedua orangtua saya dan sedikit tentang lingkungan sekitar rumah orangtua. Kami masih menumpang di rumah orangtua saya, dengan beberapa alasan yang kuat.

Sampai pada tahun 2015, Papa saya sakit berturut-turut dan pada akhirnya terserang stroke di bulan Agustus 2015. Abang saya yang sebelum menikah tinggal di rumah, pindah ke luar rumah. Akhirnya tinggal keluarga kami yang di rumah, guna menemani kedua orangtua saya, membantu sedikit secara ekonomi karena kedua orangtua saya sudah pensiun, meramaikan suasana rumah dengan kehadiran cucu, menyemangati Papa dan menemani curhatan Mama. Abang sulung saya tinggal tidak jauh dari rumah orangtua bersama keluarganya, dia juga banyak sekali membantu orangtua di saat-saat genting.

Meski saya dan pak suami sudah menyicil rumah di daerah selatan, tapi kami belum niat untuk pindah. Selain lokasi tidak dekat dengan kantor, pengawasan anak-anak, saya pribadi tidak tega meninggalkan kedua orangtua yang butuh support. Semoga pak suami ridho dengan keadaan ini..aamiin. (PR saya berikut nih untuk berbicara sama pak suami tentang ini) πŸ˜€

Untuk lingkungan sekitar rumah orangtua, saya dan pak suami tidak terlalu terlibat banyak karena kami berdua sama-sama bekerja dari pagi sampai penghujung sore. Mungkin secara tenaga atau peran kami hampir tidak ada sumbangsihnya, tapi kami menggunakan jasa tetangga sebagai asisten rumah tangga dan supir.

============================================================================

Alhamdulillah..melalui tugas NHW kali ini, saya “dipaksa” untuk mengenal sekeliling saya dan manfaat saya berada di dalamnya.

wallpaper10-01

Iklan

Penulis: melissa

pekerjaan utama sebagai istri dan ibu, pekerjaan sampingan sebagai pegawai yang kadang-kadang tugas ke luar kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s