Kelahiran Kamila ke Dunia

Alhamdulillahirrobil ‘alaamiin..
Telah lahir putri kedua kami, Kamila Alesha Nugroho, pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2017 pukul 22.23 WIB. Si kecil lahir di usia kandungan 37 minggu dengan BB 2800 gram dan PB 47 cm.

image

Dan cerita kelahiran anak keduaku, ternyata tidak semudah yang aku harapkan dan jauh dari apa yang aku usahakan selama kehamilannya. Semua kembali kepada takdir Allah SWT, pasrah sepasrahnya. Mungkin dalam ceritaku ini masih nyelip rasa “tidak terima”, tapi aku berusaha ikhlas menerima apa yg telah Allah gariskan. InsyaAllah..mohon ampunan dan petunjukMu Yaa Allah.

—Flashback—

Sabtu, 24 Desember 2016

Kontrol kehamilan sama dr. Laksmi di RSB. Duren Tiga, usia kandungan 33 minggu. Alhamdulillah keadaan janin bagus dan aku juga sehat.

Rabu, 28 Desember 2016

Mumpung lagi cuti, akhirnya menyempatkan diri kontrol ke bidan Erie Marjoko di Citayam. Pergi bertiga sama suami dan kakak Kiya, naik commuter line dari stasiun Kalibata dan turun di stasiun Citayam.

Banyak dapat pencerahan dari bude Erie, yang selama ini aku agak takut2 kalau jalan banyak karena sejak perut udah besar banget, terasaaaa kenceng dan beratnya, cuma takut brojol belum waktunya. Ternyata eh ternyata, itu biasa selama bukan kontraksi yang rutin, perut kencang dan pergerakan bayi aktif, nggak masalah. Beberapa nasihat bude erie:

  1. Aku diharuskan berjalan cepat dan aktif bergerak, karena untuk membuka jalan lahir. Olahraga wajib hukumnya untuk bumil, setiap hari.
  2. Karena kelahiran anak pertama aku mengalami perdarahan di perineum (di jahitan episnya), aku diajarkan pijat perineum.
  3. Untuk meningkatkan Hb aku yang memang rendah, aku dianjurkan minum sari dari buah bit dan buah kurma setiap hari.
  4. Latihan teknik pernapasan perut sesering mungkin, kapan pun dan dimanapun.
  5. Afirmasi positif dan ajak bayi di perut ngobrol

 

Harusnya kontrol lagi ke dr. Laksmi 2 minggu kemudian (tanggal 14 Jan 2017), tapi saat itu kondisiku lagi nggak enak jadi batal kontrol.

Senin 16 Januari 2017

Aku masuk kerja seperti biasa dan karena udah merasa gampang lelah, aku memutuskan mau ambil cuti mulai minggu depan. Jadi seminggu di kantor persiapan mau cuti, termasuk bikin surat cuti. Ternyata untuk ajukan cuti melahirkan harus ada surat pengantar dr dokternya. Karena RS tempatku kontrol jauh dr kantor, dan pekerjaan yg harus kuselesaikan sebelum cuti banyak, jadi nggak sempat mampir ke RS. Sampai hari Jumat tanggal 20 Jan 2016 tiba, sedangkan aku mau cuti hari Senin besok!

Jumat, 20 Januari 2016
Di usia kandungan yang sudah masuk 37 minggu, kondisiku makin gampang lelah karena perut yg membesar, dan kaki gampang bengkak. Sehabis makan siang, aku memutuskan pergi ke RS.Tambak yang dekat dengan kantor, untuk kontrol sekalian minta surat pengantar cuti melahirkan 3 bulan. Datang ke RS sendirian, tiba di sana ditangani dr.Dwi Rahmawaty. Yang bikin kaget, hasil tensiku tinggi 140/100, masyaAllah. Aku mulai curiga dengan keadaanku dimana kaki bengkak dan tensi tinggi, dan sudah 2 hari kepala dan leherku sakit dan kaku, pandangan mata agak kabur dan pernah 1 kali kunang-kunang.

Pas masuk ke ruang dokter, diperiksa bahwa kondisi janin bagus. BB normal dan air ketuban banyak. Sampai dokter sadar tensiku yg tinggi. Diminta cek ulang lagi, dan hasilnya 150/100 dengan 2 kali cek. Dokter Dwi saran untuk cek urinku.

Sambil menunggu hasil urin, aku sholat ashar di mushola, berharap semoga aku sehat-sehat saja. Takdir Allah..hasil urinku terdapat keobocoran protein +3 (paling tinggi). Kesimpulan: aku pre eklampsia.

Saran dokter: aku harus segera rawat inap untuk induksi atau langsung operasi agar melahirkan secepatnya. Karena usia kandunganku sudah cukup bulan (37 minggu).

Aku: shock! dan semakin stres!

Dokter Dwi akhirnya kasih catatan untuk dibawa ke dokter Laksmi dan aku diberi obat penurun tensi. Sehingga aku masih bisa konsul ke dokter biasanya. Aku balik ke kantor dalam keadaan makin pusing dan stres..astaghfirullah…

Aku langsung whatsapp suami. Tiba di rumah, cerita ke mama.Aku juga wa teman-teman yang pernah mengalami pre eklampsia atau tensi tinggi menjelang melahirkan. Aku mau tau bagaimana pengalaman mereka dan tindakan apa yang diberikan dari dokternya. Kepalaku tetap pusing dan tengkuk pundak sakit. Pas suami pulang, kita diskusi tapi suami tetap menyerahkan ke aku. Menurut informasi dari internet, memang saran dokter-dokter bahwa dengan pre-eklampsia harus dilahirkan segera apabila sudah cukup bulan. Aku semakin bingung dan semakin pusing, ini semua di luar perkiraanku.

Aku tetap ingin melahirkan dengan proses normal tapi yang alami, lembut dan minim trauma. Selama kehamilan kedua ini, aku sudah bergerak lebih aktif, yoga sendiri di rumah pakai youtube, beli gymball, baca artikelnya bidankita tentang GB, afirmasi positif, belajar pernapasan tiap saat, baca buku dan dengar CD melahirkan tanpa rasa sakit. Pokoknya lebih banyak yang aku pelajari dan aku praktikan di kehamilan kedua dibanding kehamilan pertama. Tapi kalau keadaannya pre-eklampsia begini, gimana donk. Aku nangis malam itu, antara masih nggak percaya dan bingung ambil keputusan.

Sabtu, 21 Januari 2017

Aku beserta keluarga (suami, kiya, mama, tante & om yang lagi nginap di rumah), pergi kontrol ke RSB Duren Tiga. Karena perkiraan aku akan segera melahirkan, maka aku ditemani banyak orang :). Pertama kontrol jam 11 aku ke dr. Fachrudin untuk minta opini, ternyata keputusan dia adalah langsung operasi cesar. Sambil menunggu dokter, aku sempat ikut kelas senam hamil di RS itu, dan ngobrol sama bidan Andry yang ujung-ujungnya dia bisa bantu hypno saat proses melahirkan berlangsung.

Setelah dari dr.Fachrudin, aku daftar lagi ke dr. Laksmi. Kami pergi makan siang dulu sambil menunggu jadwal dr.Laksmi. Di ruang dr.Laksmi, aku langsung cerita perihal pre eklampsia, aku di USG yang alhamdulillah kondisi janin sangat bagus. Dr. Laksmi menjelaskan tentang PE ini, dan aku masih boleh coba induksi dulu dengan catatan hanya 24 jam dan dosis tidak tinggi. Ya sudah aku setuju, dan malam ini aku mulai masuk RS untuk rawat inap.

Jam 9 malam, aku kembali ke RSB. Duren Tiga untuk mulai rawat inap. Momen saat aku mau pergi ke RS, melihat Kiya yang awalnya mengerti kalau Mama-Papanya mau nginap di RS untuk ngeluarin adek, pas kita pamit mau pergi dia nangis sediiiih banget. Mamanya langsung ikutan mewek dan peluk cium Kiya.

Di RS, aku langsung menuju kamar rawat. Suster pasang infus di tangan kanan dan mesin tensi meter di tanngan kiri. Induksi langsung dimasukan jam 10 malam via infus. Nggak lama kontraksi mulai datang, tapi aku sendiri belum terasa banget. Karena kepala masih sakit, aku usahakan untuk tidur tapi susah. Lucunya, kalau aku pejamkan mata dan bayangin tingkah lucunya Kiya, sakit kepalaku hilang. Masya Allah…

Setelah 12 jam diinduksi, aku di cek pembukaan untuk pertama kalinya. Sebetulnya aku agak2 trauma dengan VT, tapi saat VT kali ini aku ingat moto di bidankita “Just Breathe”, aku pun tarik napas-rileks-senyum-buang napas..alhamdulillah beberapa kali VT nggak terasa menegangkan dan sakit. Hilang sudah rasa takutku pada VT :). Bahkan bidan pertama ini sampai obok2..hehe. Hasilnya belum ada pembukaan.

Selama masa induksi ini, aku nggak bisa turun dari tempat tidur. Karena tangan keduanya terikat, kanan infus kiri tensi. Yang tensi ini kalau lagi mompa, sakitnyaaa sampai tangan kiriku bengkak. Sama sekali nggak nyaman rasanya. Mau melakukan aksi2 yang memperlancarkan pembukaan sangat terbatas. Jadi apa yang kulakukan di tempat tidur? Jongkok dan goyang2in pinggul. Tapi itu juga nggak bisa lama2 karena harus menahan sakit kepala dan leher.

Sekitar 2 jam kemudian, cek VT sama dr.Laksmi, kalau VT sama budok rasanya lebih lembut lho..haha. Udah bukaan 2 tapi kepala masih ngambang. Sekitar jam 2 siang, cek pembukaan lagi, sudah maju 3. Saat itu, aku jadi semakin yakin bisa melahirkan normal dan ajak bayi di perut ” dek yuk kita lahiran maghrib ini”. Selama induksi ini, aku juga di cek CTG dan detak jantung bayi.

Lewat maghrib, dicek pembukaan masih 3 dan kepala masih ngambang. Jam 8 malam, dijelaskan hasil CTG bahwa scan terakhir kalau detak jantung bayi mulai lemah, nggak sekuat sebelumnya, sedangkan jam 10 malam induksi akan dilepas karena sudah 24 jam. Alasan dr. Laksmi cuma kasih induksi 24 jam karena tensi tinggi aku ini. Untuk mencegah eklampsia, aku disuntikan obat anti-kejang yang rasanya panaaas di dalam tubuh. The time is over, maka kita pun harus segera membuat keputusan.

Jam 20:30 kami pun memutuskan untuk siap operasi caesar. Langsung perawat menghubungi dr. Laksmi dan dokter anastesi. Jam 21:30, aku masuk ruang persiapan, ganti baju dan cukuran, menunggu sampai dokter tiba. Perasaanku yang masih belum terima, belum percaya sepenuhnya akan dioperasi, hanya mampu berdoa dan Just Breathe untuk merilekskan pikiran. Bismillah…

Jam 22:00 tepat, masuk ruang operasi. Ternyata ada lagu-lagu di ruang operasi, supaya bikin tenang pasien dan tenaga medis kali yaaa. Setelah dibaringkan di meja operasi, aku disapa dr. Laksmi yang sudah berpakaian lengkap operasi, kemudian disapa dokter anastesi. Dokter anastesi ngajak ngobrol supaya rileks, kemudian tubuhku dibantu suster dimiringkan dan dilekungkan ke depan. Aku pun disuntik bius di spinal punggung belakang. Alhamdulillah sekali suntik saja langsung masuk obat biusnya. Daaan dengan gerakan sangat cepat tapi hati-hati, tubuhku langsung direbahkan kembali, dipasang kain penghalang, kakiku dielus-elus tanda aku sudah mulai kebal dan kesemutan efek bius. Rasanya itu kaya saat kita tidur tapi ketindihan “sesuatu”, mau gerakin kaki tapi ketahan nggak bisa bergerak. Hee.. Saat perut terasa dipegang-pegang, aku terus berusaha merilekskan pikiran dengan tarik-buang napas sembari zikir, tujuanku adalah bahwa aku tidak mau merasakan saat perut disayat pisau, rasa diobok-obok, karena takut stres.

Alhamdulillah tepat jam 22.23 WIB (laporan dari suster yang bicara di samping), lahirlah bayi perempuan mungil. Aku melihat saat dia diangkat dari perutku, sambil menangis merdu. Alhamdulillah… aku pun terasa rileks lagi dan memejamkan mata, lalu melek lagi saat bayi mungil ini mau disusukan ke payudara kananku, Masya Allah…cantiknya..aku pun memegangnya, lembuuut sekali kulitnya :)). *note: ini bukan IMD seperti yang kuminta yaa..

Sebentar aja bayi disusukan, lalu diambil lagi sama suster. Aku memejamkan mata kembali sambil terus inhale-exhale napas, dan mulai terasa perutku kaya “disetrika” bolak-balik dari kanan ke kiri, ini mungkin lagi proses jahit kali yaaa.. Tidak terasa, operasi sudah selesai, aku pun dibawa ke ruang observasi dan ditinggal sendiri. Tidak lama, suamiku masuk lalu gantian mama yang masuk ke ruang observasi. Pengalaman beberapa orang setelah operasi cesar menggigil, alhamdulillah aku nggak mengalaminya. Justru kepalaku yang tadi sakit malah terasa rileks banget, lega, plong (perut masih aman belum terasa sakit karena efek bius). Aku pun tertidur pulas di ruang observasi, sesekali bangun dan tengok tensi monitor di samping kanan, walah ternyata tensiku masih tinggi, malah lebih tinggi sampai sekitar 160-180, yang bawahnya 100 lebih juga. Ajaibnya, aku tetap rileks banget karena berpikiran, wajarlah abis operasi tensi tinggi. dan kemudian tidur lagi sampai jam 5 pagi ada suster yang masuk.

Alhamdulillah…terima kasih Allah Maha Baik, aku dan bayiku selamat dan sehat, ini takdir-Mu yang harus aku terima dengan pasrah sepasrahnya. Insya Allah usaha dan pembelajaranku nggak ada yang sia-sia..Aamiin.

Seorang ibu tetaplah ibu, mau dia melahirkan dengan operasi SC atau via vagina, anaknya dikasih sufor atau ASI, pakai pospak atau popok kain, makanan instan atau homemade, daaan lain-lain. Setiap ibu ingin yang terbaik untuk anaknya, ingin anaknya sehat dan pintar, ingin anaknya jadi anak soleh/solehah. Semoga rasa sakit dan lelahnya ibu terbayarkan nanti, kapan nantinya? hanya Allah yang tau. Selamat berlelah para mommies πŸ™‚

Apakah proses melahirkanku kali ini gentlebirth? Menurutku iya, aku bisa sangat tenang saat operasi, rileks, dan minim trauma. Mudah2an untuk bayiku juga terasa efek gentlebirth buat dia πŸ™‚

 

 

 

 

image

image

Iklan

Penulis: melissa

pekerjaan utama sebagai istri dan ibu, pekerjaan sampingan sebagai pegawai yang kadang-kadang tugas ke luar kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s