Resep menjadi Orang Tua baru

image

Tiba-tiba ingin menulis tentang “ini” setelah memandangi wajah mungil si cantik yang tengah tertidur. Sekelebat bayangan mulai dari kelahirannya hingga ia usia 1,5 tahun ini beserta perkembangan2nya yang semakin menggemaskan.

Sadar sekali akan diriku dan suami, saat  kami masih berdua lalu aku hamil hingga melahirkan, kami memepersiapkan semuanya hingga kelahiran kecuali satu yang paling penting, menjadi orang tua. Kami berdua sama2 tidak menyiapkan diri menjadi orang tua.

Aku ingat sekali betapa aku sangaaattt update informasi seputar kehamilan, makanannya, vitaminnya, senamnya dsb. Menjelang persalinan, aku juga rajin baca pengalaman orang tentang melahirkan, apa yg harus dipersiapkan, bagaimana proses melahirkan yang benar dsb. Sudah, benar-benar sampai situ saja informasi yang aku cari.

Apa yang terjadi di awal kehadiran si kecil Adzkiya? Yup..aku mengalami baby blues syndrome. Sama sekali tidak menyangka menjadi orang tua baru selelah ini, sedih, badan sakit2, pusing, nggak tau harus berbuat apa, sangat kurang tidur, bye bye me-time, emosian daaan banyak lagi. Padahal duluuu banget saat kenal istilah baby blues (masih jaman kuliah), sempat underestimate orang tua yang sampai kena baby blues ini. Haiyah..ternyata aku sendiri mengalaminya😥.

Ingat sekali awal merawat Kiya, aku sering nangis, lalu marah ke diri sendiri, melebar marah ke suami, ke orang2 di rumah (orang tua & kakak), dan terburuknya marah ke Kiya. Stress Kiya yang cengeng banget, rewel, nggak bisa ditinggal sebentar, badan pegal karena menyusui bisa sampe berjam-jam.

Sampai aku bertemu dengan titik balik keterpurukan baby blues (lebay dah), saat untuk pertama kalinya sejak ada Kiya, suami dinas 2 malam ke luar kota dan aku setengah mati deg-degan tidur berdua Kiya doang. Di malam itu, aku yang masih selalu terjaga di malam hari karena Kiya masih sangaaat sering minta mimi, kupandangi wajahnya yang baru saja nenen lalu tidur lagi, aku sadar! Aku bergumam dalam hati, makhluk mungil ini siapa lagi yang jaga & rawat dia kalau bukan aku sebagai ibunya. Siapa lagi coba?? Di saat itulah aku bangkit, keesokan harinya kujalani hari dengan mencoba lebih sabar, lebih ikhlas, lebih update tentang parenting, tentang pertumbuhan & perkembangan anak daaan lainnya. Lalu aku juga berani curhat tentang “ini” ke mama, suami, kakak ipar, dan pastinya adalah petunjuk Allah. Alhamdulillah…aku terbebas dari baby blues akibat ketidaksiapan aku sebagai orang tua baru.

Lalu selesai sampai di situ? Perjalanan masih panjang…hingga Kiya masuk masa mp-asi. Tepat di bulan ke-8 usianya, Kiya terkena penyakit dalam waktu yang lama, 11 malam demam tinggi!! Bertepatan tumbuhnya gigi pertama daaan tiba-tiba makannya jadi susaaaah banget. Perjuangan berat adalah Kiya susah makan, sampai aku pernah saking kesalnya menumpahkan makanan Kiya ke lantai (makanan yang nggak mau dia makan), lalu Kiya terpeleset makanan itu dan jatuh terkena kepalanya, nangis kejerlah dia. Aku sangat menyesal. Sebetulnya saat itu, aku juga kesal sama suami karena di tengah kerepotanku memberikan makan ke Kiya yang nggak bisa diam & menolak makanannya, suami hanya duduk santai sambil nonton tv, jujur aku sangaaat butuh bantuannya saat itu tapi suami cuek. Dan terjadilah kisah tadi, untuk menarik perhatian suamiku juga.

Setelah itu aku instropeksi, kembali dari prinsip awal bahwa ibu adalah yang utama dalam menjaga & merawat anaknya, jangan berharap pada orang lain (termasuk suami). Setelah itu, aku merasa dapat energi baru dalam merawat Kiya. Memang sangat dibutuhkan ekstra sabar plus plus plus dan ekstra ikhlas plus plus plus untuk menjadi orang tua, terutama ibu.

Kini di usia 1,5 tahun anakku, kumerasa waktu dengannya kurang karena aku sudah sangat menikmati peranku sebagai ibu. Melihat pertumbuhan, perkembangan, kepintarannya sungguh menjadi hiburan. Makannya tetap tidak selahap anak2 lainnya tapi aku tidak memaksa, tetap ikuti kapasitas dia dengan menjaga gizi makanannya dan berusaha makanan rumahan. Insya Allah anak-anakku tumbuh sehat, soleh, pintar, jujur, santun dan penyayang, serta menjaga ibadah & aqidahnya. Aamiin.

Love you, Adzkiya :*

**tulisan ini sengaja menggunakan “aku” sbg pengganti orang pertama, biasanya pakai “gw”. Alasannya?? Merasa lebih cocok aja pakai “aku”..hehe.

3 thoughts on “Resep menjadi Orang Tua baru

  1. Yth. Mama Mel, saya baca bahwa anda pernah memeriksakan kehamilan ke Dr. Nana Agustina. bolehkan saya mendapatkan nomer Hp Dokter Nana. Karena saya ingin bikin janji dgn beliau memeriksakan istri. Terima kasih.

    • yth. bapak henoza, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. tetapi mohon maaf belum bisa bantu bapak karena saya belum sempat punya nomor kontak dr. Nana karena pertemuan saya hanya 3 kali termasuk saat melahirkan. Setelah melahirkan saya cuma 1 kali saja bertemu beliau lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s