Enam Bulan Pertama

Enam bulan pertama kehidupan Kiya di dunia. Enam bulan pertama kami menjadi orang tua. Enam bulan pertama menyusui bayi. Enam bulan pertama merawat bayi. Tidak terasa sudah setengah tahun berlalu, jika melihat-lihat foto saat Kiya baru lahir…Subhanallah betapa takjub dengan perkembangan bayi mungil yang kini sudah semakin besar. Melihat foto-foto itu, membuat gw merenung bagaimana bisa gw sempat sebal sama si mungil ini, lihat wajahnya begitu menggemaskan, tidak berdosa, dan betapa ia bergantung pada kami orang tuanya. Ya ampun, maafin mama ya Kiya saat itu, karena ketidaksiapan mama sebagai orang tua kadang Kiya sedikit mama bentak kalau nangis melulu..hehe, peluk sayaaaang…🙂.

Sekarang Kiya sudah tumbuh semakin besar dan pintar, cengengnya jauh berkurang. Kiya sekarang nangis kalau mengantuk atau minta susu/makan saja. Alhamdulillah Kiya lulus ASI eksklusifnya selama 6 bulan dan mulai makanan pendamping ASI yang alhamdulillah Kiya suka. Kiya juga semakin lucu dan bisa diajak becanda, dulu pergi ke kantor sebagai tempat pelarian gw untuk punya “me-time”, sekarang gw malah ingin pulang cepat karena nggak sabar mau main sama si mungil ini.

Yap, tidaklah mudah menjalankan enam bulan pertama ini, baik sebagai orang tua, ibu, istri, dan diri sendiri. Sebagai orang tua, sejak kelahiran si kecil gw dan suami harus menekan ego masing-masing demi Kiya. Kita berdua harus berpikir sebagai pengayom, pengasuh dan juga mulai memikirkan masa depan keluarga kita. KIta berdua sampai tidak pernah lagi pacaran berdua sejak kehadiran Kiya, karena saat hari libur gw dan suami yang full mengurus Kiya sedangkan saat kita kerja, Kiya diurus mama gw. Gw juga belajar menjadi ibu, bagaimana merawat, mengasuh, sabar, dan kreatif dalam mendidik Kiya. Sejak punya anak, gw jadi kurang melayani suami, hehe…biasanya mau berangkat kerja pakaian suami disiapin sekarang hampir nggak pernah, suami makan ditemani sekarang makan sendiri aja, maafkan aku suamiiii…😀. Dan jangan tanya waktu “me-time” gw karena hampir tidak ada, kecuali browsing di internet pas Kiya udah bobo (sebentar), bahkan gw menolak hampir semua perjalanan dinas ke luar kota, padahal gw ingin refreshing jugaaa…cuma kok ya nggak tega meninggalkan Kiya yang tiap bobo malam masih suka nyari-nyari nenen mama-nya😥.

Well, itu semua harus gw hadapi dan jalani dengan stok sabar dan ikhlas. Yap, punya anak memang rezeki yang besar dari Allah dan sekaligus ujian buat kita para orang tua. ALhamdulillah, sekarang gw dan suami sudah menemukan irama yang jauh lebih baik dalam mengurus anak. Gw tidak merasa terlalu lelah seperti dulu, suami juga udah tau dimana perannya. Segala ke-egoan harus gw tekan karena gw berpikir “kapan lagi bisa seperti ini?”. Kiya akan tumbuh semakin besar, pintar, dan mandiri. Suatu saat Kiya akan menemukan hidupnya sendiri, nah ini paling cuma 2-3 tahun gw “terikat” dengan Kiya seperti ini. Jadi sabar saja jalani waktu-waktu yang berharga ini bersama my beloved daughter, Kiya. Mama always loves you :*…Dan mas suami, suatu saat kita akan pacaran lagiiii..hihihi, Love you too :*…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s