Ngunduh Mantu di Lampung dalam keadaan tidak sehat :(

Ngunduh Mantu di Lampung

 

Selang 3 minggu setelah pernikahan kami di Jakarta, mertua saya berencana mengadakan resepsi sekali lagi di rumah mereka di Lampung, lebih tepatnya di Kotaagung, Tanggamus, Lampung. Dalam adat Jawa, resepsi di tempat pria ini biasa disebut Ngunduh Mantu. Saya dan suami berangkat ke Lampung pada tanggal 12 Juli 2012, kami berangakat dengan pesawat dari Sokarno-Hatta dan mendarat di Bandara Raden Inten II yang hanya 25 menit penerbangan. Hahaha…singkat banget. Sesampainya di bandara Lampung, kami sudah dijemput bapak mertua, adik ipar beserta supirnya. Perjalanan kami dari bandara ke rumah di Kotaagung normalnya hanya memakan waktu 2,5 jam dengan mobil pribadi, tetapi karena ada keperluan kami mampir dulu di Bandar Lampung,  makan siang di Pringsewu, dan bapak mertua mampir ke acara nikahan juga di Pringsewu…alhasil total perjalanan kami memakan waktu 3,5 jam dan sampailah kami semua dengan selamat di rumah mertua di Kotaagung, kampung halaman suamiku, untuk pertama kalinya🙂. Rumah dalam keadaan ramai sekali, tetangga-tetangga bergotong royong membantu untuk acara resepsi ini, dimuali memasak, mendirikan tenda, membuat makanan kudapan dan minuman, dan membungkus souvenir yang kami bawa dari Jakarta.

Namun kondisi badanku anehnya, perjalanan darat hanya 3 jam lebih ini bagiku sangat melelahkan dan membuatku nggak nafsu makan. Setelah disuguhi teh hangat di rumah mertua, perutku agak enakan. Saat mau sholat, aku ke toilet dan baru sadar kalau aku sedang haid hari pertama (telat 5 hari dari bulan2 sebelumnya). Ooh..jadi rasa nggak enak badan ini karena haid toh. Badan agak demam juga, dan aku minum obat saja, kemudian istirahat. Meskipun ada rasa nggak enak sama mertua karena rumah sedang sibuk2nya tapi saya malah tiduran, habis mau bagaimana, kondisi saya saat ini lemah dan nggak enak. Saat mau bertukar pakaian, antara leher dan dada saya ada bentol yang sangat gatal, saya garuk dan kemudian saya kasih minyak kayu putih, tapi anehnya dua bentolan itu malah makin perih dikasih minyak kayu putih. Ya sudahlah, mungkin saya digigit serangga lokal..hehe. Sore hari saya tidur dan terbangun, kemudian mandi dan kondisi badan agak membaik. Tapi tetap nafsu makan saya tidak baik.

Keesokan harinya (Jumat, 13 Juli 2012), saya mandi pagi dan lagi-lagi ada bentolan di punggung, di saat saya sedang berpakaian, saya merasakan bentolan yang agak gatal dan perih itu seperti pecah dan ad sedikit cairan. Waduh?! Apa ini??. Pikiran saya mulai curiga pada suatu penyakit, tapi saya berdoa kepada Allah semoga bukan, karena besok kami akan mengadakan acara seharian!!! dan lagi-lagi siang ini badan saya sedikit demam lagi. Hari ini kedua orang tua dan kakak saya datang ke Lampung, mama sedikit khawatir karena kondisiku ini. Sore harinya pun, saya diantar suami ke dokter dan kata dokter tenggorokan saya agak merah seperti mau radang, kemungkinan panas dalam. Maka saya pun diberi obat demam, maag, dan antobiotik untuk radang. Sampai rumah istirahat lagi dan tetap tidak selera dengan jajanan enak khas Lampung…hiks. Setelah makan malam, saya kembali istirhat karena badan terasa mudah lelah dan mengantuk. Saya pun terditur nyenyak dan suami membangunkan saya katanya untuk dipasang henna di tangan, saya pun bilang tidak usah saja karena saya butuh istirahat. Setengah jam kemudian, perias dari paket pernikahannya masuk ke kamar (kebetulan memang tetangga) dan membangunkan saya untuk pasang henna (what the..!!). Saya pun karena tidak enak dengan tetangga mertua, akhirnya bangun juga dan bersedia di henna (padahal henna saya yang pernikahan di Jakarta baru saja hilang). Jam setengah 10 malam, saya digirin g ke ruang tengah, dihadapkan di kipas angin (padahal badan masih nggak enak) supaya henna-nya cepat kering dan mulailah dipasang henna yang menggunakan kertas cetak. Hmm..bukannya mau membandingkan yaa, tapi kok berantakan ya pake-nya padahal udah pake kertas cetak, lebih rapi henna yang dipasang di rumahku dulu padahal dia lukis sendiri. ZDengan bantuan kipas angin, henna cepat kering dan coba dibuka satu motif dan jeng..jeng..nggak ada warnanya alias gagal. Akhirnya sm periasnya disuruh tunggu aja lagi dan setelah dia selesai pasang, dia pulang, tinggallah saya dengan henna pasta hitam yang belepotan ini. Karena sudah mengantuk lagi, henna pun saya bawa tidur. Saat tertidur, karena gatal dan sudah sangat kering saya lepas hennanya daaaaan…tidak menghasilkan karya apa pun di tangan saya, yang ada hitam seperti belepotan tinta di tangan saya. Saya pun langsusng ke kamar mandi dan gosok-gosok pakai sabun, alhamdulillah bisa hilang dengan sempurna. Memang sebaiknya tidak usah pasang sekalian tadi malam. Cape deeeh…

Sabtu tanggal 14 Juli 2012, dimulailah resepsi seharian ini. Pagi hari semua sudah sibuk dan saya sudah mandi. Jam setengah 9 lewat, perias untuk saya belum datangh juga. Akhirnya ibu mertua dan mama dulu yang dirias. Harusnya yang merias saya perias yang semalam memakaikan henna ke tangan saya, si pemilik sanggar pernikahan ini. Akhirnya jam setengah 9 lewat sudah, saya pun dirias oleh asistennya yang sudah merias ibu-ibu dari tadi pagi. Hari ini resepsi akan diadakan dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam…Nah, kebayang kan capeknya…Fiuuh.. Dan saya dan suami akan berganti pakaian 3 kali, pertama pakaian pengantin Dodotan khas Jogja nuandan kuning, tetapi karena saya menutup aurat jadi saya pakai bolero Jawa warna hitam bordir emas di luarnya, riasannya memakai paes ageng yang ditempel. Acara pun dimulai jam setengah 11.

Sekitar jam setengah 3 siang, kami istirahat dulu dan makan. Kemudian saya dan suami ganti pakaian lagi, kebaya berwarna merah dengan riasan wajah dan rambut yang masih sama, sedangkan suami pakai baju jas Jawa serta blangkon. Pas maghrib, kami semua istirahat lagi dan orang tua bisa mandi dulu, sedangkan kami nggak boleh mandi..hiks. Setelah makan, saya dan suami pakai baju minang berwarna ungu. Namun saya memakai kebaya ungu dipadu kain tapis dan suntiang warna perak yang ringan banget, suami pakai beskap ungu dan peci warna perak. Kondisi saya semakin tidak baik, setiap mau diri salam sam tamu dan duduk di pelaminan, saya membutuhkan bantuan tangan suami, lelah sangat tapi harus tetap senyum menyambut tamu. Akhirnya jam 9 malam pun berdentang, kami bubar dan kembali ke dalam rumah. Daaaan…lagi-lagi periasnya meninggalkan kami bergitu saja, tanpa menunggu membantu buka aksesoris saya (seperti maghrib tadi), alhamdulillah adik iparku bisa membuka segala perangkat suntiang dkk dengan sanga telaten..Aaah, leganyaa…Alhamdulillah, selesai juga acara hari itu. Saya segera mandi dan bersih-bersih wajah dari make-up yang tebal. Kemudian minum obat dan tidur.

Keesokan harinya, hari Minggu, saya pun bangun dalam keadaan sedikit demam lagi. Badan tidak enak dan pas mandi saya merasakan kejanggalan pada tubuh saya, saya tunjukkan ke suami bahwa bentol-bentol di badan semakin banyak, kemudian ibu mertua juga ngecek dan yak positiflah bahwa saya kena Cacar Air !!!! Tidaaaaakkkk…..ini dia yang saya takutkan sebelumnya, tapi perasaan saya nggak terlalu beban lagi karena acara sudah selesai yang menjadi pikiran rasa gatal-gatal dan nggak boleh digaruknya ini serta kondisi badan yang selalu demam dan lemas. Saya pun googling tentang penyakit cacar (saya memang belum pernah kena cacar waktu kecil) dan pengobatannya. Maka siang hari itu pun saya ke apotik untuk beli obat cacar dan diberi obat Acyclofphir tablet dan salep (persis seperti di internet). Makin hari makin tumbuh cacarnya, makin gatal bahkan sampai ke kepala. Malam berikutnya saya nggak bisa tidur karena kegerahan dan badan termasuk kepala gatal-gatal semua, rasanya mau nangis…hiks. Dan untuk cacar yang sudah terlanjur pecah (2 bentolan yang itu tu) rasanya perih dan gatal, tenggorokan juga sakit. Ternyata setelah googling lagi, sebetulnya cacar air sendiri nggak parah asal tidak pecah, yang membuat parah adalah infeksi sekunder karena luka yang pecah itu, dalam kasus saya tenggorokan sakit dan demam karena bentolan yang pecah dekat leher. Mata kanan saya juga merah karena virus juga ada di situ. Puji syukur, karena keluarga suami saya sudah pernah terinfeksi cacar air jadi saya tidak dikarantina…hehe.

Hari Selasa tanggal 17 Juli 2012, saya dan suami pulang kembali ke Jakarta, hingga hari ini kondisi badan saya masih seidkit demam. Saya menutup badan rapat-rapat termasuk wajah, tapi kata suamiku cacar di wajah kaya jerawat. Alhamdulillah saya berhasil sampai di Jakarta tanpa ada yang menyadari kalau saya sedang cacar air, takutnya saya nggak boleh pulang naik pesawat. hehe… Dan cacar ini terus berlanjut hinggu seminggu ke depan di rumah, kemudian seminggu lebih lagi proses pengelupasan keropeng-keropengnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s