Berlabuh di Meulaboh

[repost from kireiicha.blogspot.com]

Juni tanggal 12-14 tahun 2011, gue melancong ke tanah rencong, Aceh. Kota tujuannya adalah Meulaboh, terletak dio Aceh Barat, terkenal dengan korban tsunami terbanyak di Aceh pada tahun 2004 silam. Perjalanan ke Meulaboh ada beberapa pilihan, yakni penerbangan udara ke Banda Aceh lalu disambung perjalanan darat selama 8 jam atau penerbangan udara ke Medan dan disambung jalur udara dengan pesawat kecil selama 1 jam? Pilihan jatuh pada pilihan ke-2.

Gue dan rombongan pun memesan penerbangan Garuda ke Medan dan dilanjutkan dengan Susi Air Medan-Meulaboh. Dikarenakan jadwal landing Jkt-Medan dengan jadwal take-off Susi Air Medan-Meulaboh yang sangat mepet, alhasil kita nyaris ditinggal Susi Air. Sialnya, barang bawaan kita yang besar terpaksa ditinggal di Polonia, Medan karena udah nggak sempat mengatur bagasi lagi. Hadeuuuh…koperku😦. Kata petugasnya koper2 akan diantar besok pagi dengan penerbangan Susi Air juga. Pengalaman baru bagiku adalah terbang dengan Susi Air,

pesawat kecil dengan muatan penumpang 12 orang dan 2 orang crew pesawat. Deg2an banget pesawat kecil yang tak lebih besar dari bus Damri ini akan membawa kita terbang di udara. Bismillah….

Pesawat pun naik dipimpin 2 orang crew bule, fyi ternyata pilotnya cewe bule lho😉. Penerbangannya rendah, sehingga kita masih bisa melihat pemandangan di bawah dengan jelas, pesawat agak guncang2 saat melewati awan, alhamdulillah cuaca cerah. Pemandangan di bawah spektakuler dan menakutkan. Bukit2 hutan hijau dengan puncak yang tajam terhampar luas selama perjalanan. (Info terkini: ternyata di salah hutan yg gue lewati itulah penumpang pesawat Cassa kecelakaan…merinding). Setelah 1 jam lamanya, yang betul2 terasa lama, Alhamdulillah… kita semua selamat sampai tujuan, inilah dia Meulaboh, selamat datang di Tanah Aceh untuk pertama kalinya.

Pemandangan bukit hutan antara Medan-Meulaboh

Kami menginap di hotel tengah kota Meulaboh. Meulaboh merupakan kota yang panas namum memiliki langit yang biru indah. Kota ini sudah bangkit kembali setelah kehancuran pada

Desember 2004 lalu, tapi kota ini tidak lagi sama dengan sebelum kejadian tersebut (meskipun gue belum pernah sekalipun menginjak kota ini). Sore hari, kami bermain di pantai Meulaboh yang ombaknya luar biasa besar krn langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Gue

berpikir, dalam keadaan normal seperti ini ombak sangat besar, apalagi waktu tsunami dulu? brrr…nggak kebayang betapa besarnya. Gue tidak melewati pemotretan pantai dan langit indah Meulaboh ini🙂. Tak jauh dari pantai itu ada bangunan yang telah hancur namun masih ada sisa bangunan yang berdiri, bangunan itu adalah asrama dan markas korem/TNI yang hancur dan seluruh penghuni meninggal saat tsunami 2004 lalu. Innalillahi…. Berjalan lagi ke utara, ada Makam Massal korban tsunami yang diberi pagar dan bendera merah putih di depannya.

Langit indah di pantai Meulaboh

 

 

Makam Massal korban Tsunami 2004 di Meulaboh

Hari kedua di Meulaboh, kami mengikuti simulasi bencana di sana. Masyarakat di kota banyak membangun ruko-ruko yang fungsinya selain untuk berjualan, ternyata untuk tempat menyelamatkan diri (tempat evakuasi) apabila tsunami datang, jadi simulasi ini adalah memberikan gambaran bagi masyarakat apabila ada gempa besar terjadi kemudian laut surut, makan atap-atap ruko yang tinggi itu bisa dijadikan tempat evakuasi sementara yang terdekat. Semoga masyarakat Meulaboh atau Aceh secara umum bisa menyelamatkan diri mereka saat bencana tiba2 datang. Aamiiiin….

Hari ketiga, kami bepergian ke makam salah satu pahlawan kita, Teuku Umar. Makam ini terletak di Desa Meugo Rayeuk, Kab. Aceh Barat. Perjalanan 1,5 jam dari kota Meulaboh, disuguhi pemandangan hijau menangkan sepanjang perjalanan. Apalagi tempat ini menuju dataran tinggi yang membuat cuaca lebih terasa adem dan sejuk daripada Meulaboh. Tiba di Makam Teuku Umar, kami pun berjalan kaki mulai dari gerbangnya. Berjalan ke dalam lumayan jauh tapi menarik karena dikelilingi hutan dengn kicauan2 burung dan binatang hutan lainnya. Tempat ini bukanlah hutan sepenuhnya tapi sudah dibuat jalan dan tangga2 dari semen sehingga mudah dilalui. Selain makam sang teuku, ada juga rumah panggung keluarga Teuku Umar. Selain itu, gue juga membaca biografi singkat Teuku Umar yang terpatri di dekat makamnya, dan ternyata beliau sudah mulai berjuang sejak usia muda sekali dan meninggal di usia muda juga yaitu 34 tahun. Tempat sejarah seperti ini memang bagus untuk dikunjungi, kita jadi tahu kejadian masa lampau yang tak pernah sempat kita saksikan.

Perjalanan selesai, kami pun kembali ke bandara dan menaiki Susi Air lagi menuju Medan. Di Polonia, Medan, kami transit lumayan lama dan sempat makan2 dulu. Pesawat agak delay sebentar. Setelah naik pesawat jam 8 lewat, kami berangkat menuju Jakarta. Alhamdulillah perjalanan selama di udara tenang. Dua jam kemudian pesawat sudah mendekati Jakarta, ketika pesawat mulai turun perlahan-lahan, goncangan2 mulai terjadi dan terus membesar saat pesawat makin turun. Sesekali hentakan keras terjadi dan membuat orang2 di dalam panik, termasuk gue. Astaghfirullah….Ya Allah tolong kami… gue tengok ke jendela ternyata cuaca di luar sedang hujan deras disertai petir2. Sampai akhirnya pesawat makin turun dan mulai terlihat lampu2 kota meskipun awan tebal menyelimuti, artinya kami siap mendarat….. Tapiiii tiba2 pesawat naik kembali, makin naik dan naik disertai goncangan2 keras seperti tadi. Kami yang di dalam semakin tegang dan takut jika terjadi sesuatu. Doa tak henti kuucapkan….dan setelah setengah jam mengalami saat menengangkan itu, pesawat pun mendarat di bandara. Alhamdulillah…kami semua selamat🙂.

Sejak kejadian ini, gue agak trauma naik pesawat. Semoga Allah selalu melindungi aku. Aamiiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s