Selamat Jalan Pahlawanku…

img_20180606_143120_5991219841728.jpg
Foto diambil 29 Mei 2018

Malam malam penuh kepanikan itu telah berlalu…

Suatu malam di akhir bulan Maret 2015, keadaan fisik Papa lemas dan berniat berobat ke RS. Tria Dipa, dengan taxi ditemani Da Divo pergi ke RS. Setelah berobat akhirnya dinyatakan perlu opname. Hasil pemeriksaan Papa dinyatakan sakit kuning. Pulang ke rumah tanggal 10 April 2015. Di rumah tetap pemulihan kondisi Papa.

Malam hari di tanggal 14 April 2015, selang beberapa hari keluar dari RS, pukul 01.30 pagi, Mama membangunkan aku dgn keadaan panik. Malam itu, paksu (Cahyo) sedang dinas. Ternyata Papa yg sedang duduk di toilet, tidak mampu untuk berdiri. Beliau sadar, tapi matanya terlihat ketakutan, badan dikakuin, dan untuk melangkah juga takut utk jatuh. Aku berdua Mama membopong Papa perlahan2 ke kamar sembari meyakinkan semua baik2 saja ke Papa. Keadaan Papa tidak baik, meski mata terbuka namun tidak respon jika ditanya. Sekitar jam 6 pagi, kami membawa Papa ke RSCM, dugaan kami, tumor di kepala Papa (riwayat penyakit Papa) yg mempengaruhi keadaan Papa saat itu.

Hasil pemeriksaan di RSCM, memang tumor Papa membesar (setelah 2 kali operasi angkat tumor di tahun 2000 & 2007). Keadaan Papa tidak baik, kesadaran tidak penuh. Dokter memaksa utk tindakan operasi angkat tumor (lagi). Dengan berbagai pertimbangan, kami keluarga menolak operasi. Papa sadar, namun ingatannya lompat2 ke memori lama. Sekitar 2 minggu dirawat di RSCM, kondisi Papa mulai stabil dan dibolehkan pulang.

Bulan-bulan Mei, Juni, Juli, Agustus tahun 2015, adalah masa2 pemulihan Papa. Selain konsumsi obat dari dokter, Papa juga konsumsi ramuan herbal utk mematikan tumornya. Alhamdulillah menunjukan hasil yg baik, Papa bisa aktivitas seperti biasa kembali, sholat 5 waktu di masjid, bepergian meski dengan kondisi yg mudah lelah.

Malam hari di tanggal 10 Agustus 2015, setelah adzan Isya berkumandang, Papa sempat ambil wudhu dibantu Mama, lalu duduk di tepi tempat tidur karena merasa lemas dan tegang. Lalu kami coba membaringkan Papa, dan tidak lama kemudian Papa kejang2 hebat dan kuat di tubuh bagian kiri saja, mulai dari wajah sampai ke kaki. Kami panik, amat panik dan ketakutan. Sampai kami bingung harus bertindak apa. Aku menghubungi Da Divo dan tante (adik papa). Sampai akhirnya dipanggil ambulance dan Papa dibawa ke RSCM lagi.

Aku, Mama, dan tetangga yg bawa mobil serta Da Divo yg ikut di dalam ambulance menuju IGD RSCM. Papa pun tertangani dan berhenti kejangnya setelah diberi obat via suntik. Kasihannya Papa, selalu kesulitan utk diinfus, sebab pembuluh darah Papa kecil sekali, sehingga sering kali Papa berkali2 ditusuk jarum, sampai menemukan pembuluh darahnya.

Selama di IGD, berbagai tawaran tindakan diajukan. Ada yg kami setujui, ada yg tidak. Kesadaran Papa sangat lemah. Beberapa hari di IGD, akhirnya dipindahkan ke kamar rawat. 10 hari dirawat, kabar duka sepupu Papa yg juga dirawat di RSCM meninggal dunia.

Kesimpulan penyakit Papa saat itu adalah stroke. Tubuh bagian kiri Papa sudah sangat lemah. 24 hari Papa dirawat, keadaan Papa secara kesadaran membaik namun secara fisik tetap tidak berdaya. Perawatan dilanjut di rumah, kami terutama Mama yg merawat Papa setiap harinya. Papa hanya bisa berbaring dan secara psikis Papa jg sudah kena. Mulai dari membuat makanan encer, memberi makan via selang, mengelap badan, memberi minum, obat, buang air kecil dengan pispot, mengganti diaper, membersihkan Bab, daaan lain2. Jujur aku nggak sanggup melakukan itu semua, aku hanya membantu sedikit2, tapi Mama luar biasa sanggup melakukan itu sendirian selama beberapa bulan.

Suatu dini hari di bulan Desember 2015, Papa kembali kejang-kejang di tubuh kiri. Kejangnya tidak sekuat yang lalu, tapi kami tetap panik. Akhirnya Papa dilarikan ke IGD RSCM kembali. Di cek hasil darah, ternyata banyak yg drop terutama natrium dan elektrolit. Papa mendapat asupan elektrolit, Na, dan albumin. Dua hari di IGD, alhamdulillah Papa bisa pulang.

Tahun berganti 2016 lalu 2017, kondisi Papa dapat dikatakan stabil meski kesadaran tidak penuh dan fisik hanya mampu berbaring di tempat tidur saja. Di awal tahun 2016, kami mulai mennggaji perawat utk mengurus kebutuhan Papa dan mendatangkan terapis utk stroke Papa. Kita ikhtiar untuk kesembuhan Papa, karena kita yakin Papa masih ingin berjuang saat itu. Terkadang kondisi Papa drop, kita bawa ke RS, rawat beberapa hari, terkadang muncul kejang2 kecil di sisi tubuh kiri, lama-lama keluarga terbiasa menangani jika Papa kejang-kejang kecil.

Suatu malam pukul 01.30 pagi di tanggal 27 Desember 2017, Mama membangunkanku. Bukan perkara Papa kali ini, melainkan Da Divo (abang aku yg pertama). Mama dapat telepon dari Ni Tita, bahwa Da Divo nggak sadar. Segera Mama dan Cahyo menuju rumah Da Divo (dekat dari rumah Mama). Enam jam setelah Da Divo tidak sadarkan diri, tepat pukul 07.30 pagi, Da Divo berpulang ke Sang Pemilik di IGD RSCM.

Bagaimana memberitahukan kabar ini ke Papa? karena kami takut Papa kepikiran, stress, dan kejang-kejang lagi. Akan tetapi kabar ini harus dikasihtau ke Papa. Setelah jenazah Da Divo tiba di rumah, abang yg kedua dan tante mengabarkan ke Papa dengan pelan-pelan. Papa sempat tegang, tapi aki bantu dengan menenangkannya dan oles-oles lavender. Saat jenazah Da Divo dikafani, Papa justru ingin melihat. Dibantu kursi roda, Papa pun melihat tubuh Da Divo utk terakhir kali.

Sejak kepergian Da Divo, Papa mulai lemas lagi. Tidak banyak perkembangan Papa, bahkan kabar dari terapisnya jika penyumbatan pembuluh darah Papa sudah tipis. Tapi Papa tetap di kondisi yg sama, berbaring lemah, lebih banyak tidur/mata tertutup, batuk-batuk kencang masih.

Sampai tiba di suatu malam tanggal 27 Mei 2018, di bulan Ramadhan 1439 H. Malam itu, kita semua bersiap-siap tidur. Pukul 23.00, Papa kembali kejang tetapi sekali ini di sisi tubuh kanan! Awalnya masih pelan dan lalu berhenti. Mama dan aku (sambil gendong Kamila) berusaha bantu meregangkan tangan & kaki Papa. Kemudian muncul lagi kejang-kejang berikut yg lebih kuat dan lama. Akhirnya, aku panggil perawat Papa utk bantu kita. Aku pun telpon adik Papa dan kemudian telepon ambulance DKI (baru pertama menggunakan), saat itu aku dan Mama harus saling kerjasama, karena hanya kami berdua yg bisa dihandalkan Papa saat itu, karena Da Divo sudah tidak ada dan Osta tinggalnya jauh. Cahyo pun sedang dinas malam itu.

Ambulance datang, paramedis memeriksa Papa. Jam 00.30 di tanggal 29 Mei 2018, Papa dimasukan ke dalam ambulance dan diberangkatkan ke RSUD Pasar Minggu. Selama perjalanan, Papa kejang-kejang terus sampai lidah dan mulut berdarah karena kegigit kuat. Jam 1 kurang, Papa sudah ditangani di IGD dan kejang berhenti, meski tetap dengan kesulitan mencari pembuluh darah Papa. Kondisi Papa memburuk dari hari ke hari, Papa belum sadar sejak kejang-kejang kanan. Gula Papa sempat tinggi, tensi rendah, Hb rendah, dan sebagainya. Kami sudah pasrah untuk kebaikan Papa, karena melihatnya sudah tidak tega.

Setelah dirawat 6 hari di RSUD Pasar Minggu, papa tetap belum sadar. Malam hari di tanggal 2 Juni 2018 (17 Ramadhan atau malam 18 Ramadhan 1439 H), Aku yang sudah di RS dari jam 15.40 sore, karena kami dapat kabar bahwasanya kondisi Papa drop semua dan kritis. Saat itu di RS sudah berkumpul aku, Mama, Osta, adik2 Papa (Tek Des dan Tek Ti) dan mba perawat. Kemudian kondisi Papa “biasa” lagi, tapi napas Papa sudah satu-satu. Lihat di monitor pun, oksigen Papa kisaran 40-60 seringnya, kadang ada 80an meski jarang sekali dan detak jantung sekitar 200an, amat sangat cepat sekali. Jam 19.00 gw ijin pulang ke rumah, sempat bisik ke Papa untuk ijin pulang ke rumah dulu, dan saat di jalan dekat rumah, kami dapat telpon lagi bahwa kondisi Papa drop lagi. Kami balik kanan menuju RS kembali. Di lampu merah dekat RS, kami menerima bahwa Papa sudah dipanggil yang Kuasa tepat 19.30 WIB. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…Selamat Jalan Pahlawanku, perjuangan dengan penyakit stroke selama 3 tahun (lihat link ini dan ini untuk perjuangan Papa), semoga menggugurkan dosa2 Papa..aamiin.

Selamat Jalan Papa dan Da Divo, semoga bertemu di alam sana, ditempatkan di tempat yg terbaik, dibebaskan dari azab kubur dan neraka….Aamiiin Yaa Rabb…

fb_img_1527991407037-2035414647.jpg
Foto Papa, Tahun 2015 (kiri) dan Tahun 2016 (kanan)

Saat Papa berpulang dan posisi aku sedang dalam perjalanan kembali ke RS, tetiba badanku mengalir rasa hangat. Dan kemudian ada telepon masuk ke sepupuku (yang menyetir mobil) dari adiknya dia, di loudspeaker dan mengabarkan Papa sudah meninggal. Meskipun sudah siap dan ikhlas, tetap saja air mata tak terbendung untuk keluar.

Iklan

Pumping saat traveling?

Masih pumping  tapi harus traveling ke luar kota? Ini dia peralatan yang mesti dibawa dan bisa dimanfaatkan di tempat penginapan.Sebetulnya udah sejak lama mau berbagi tentang peralatan tempur perpompa-asian saat sedang traveling. Keinginan menulisnya maju mundur cantik terus, akhirnya baru hari ini kesampaian untuk menulis. Awal saya traveling sambil bawa perlengkapan pompa asi dkk itu tahun 2013. Anak saya yang pertaman, Kakak Kiya, saat itu baru berusia 4 bulan. Saya sampai googling ke sana kemari bagaimana manajemen memompa asi saat traveling. Dari awalnya deg-degan dan ribet banget, sekarang saya udah lebih santai dan mahir deh..hehe 😀
Yuk disimak-simak, semoga bisa jadi masukan buat emak-emak yang lagi bingung di kala harus memompa asi saat traveling.

Apa saja yang wajib dibawa dari rumah?

  1. Pompa ASI / Breast pump. Yup, ini nomor 1 yang wajib dibawa, jangan sampai ketiggalan bahkan sampai perintilannya juga, kalau ada yang ketinggalan ya bisa ngga beroperasi pompanya. Solusi kalau lupa, terpaksa marmet alias memerah pakai tangan. Siap-siap capek ya buu..atau beli baru di baby shop tempat traveling, siap-siap keluar budget lebih.
  2. Cooler bag. Wajib dibawa banget buat bawa pulang ASIP yang sudah diperah. Atau buat simpan ASIP sementara saat belum ketemu kulkas di tempat penginapan, dengan kondisi ice gel/ice pack masih dingin.
  3. Ice gel/Ice pack. Buat pendingin ASIP di dalam cooler bag. Jadi baiknya sebelum berangkat dari rumah, ice gel/pack ini disimpan lama dulu dalam freezer, baru dikeluarkan dan taro dalam cooler bag sesaat mau pergi. Jangan sampai kelupaan, pengalaman saya sendiri pernah lupa..haha. Setidaknya ice gel/pack masih bisa mendinginkan cooler bag sampai 8 jam atau lebih. Nah, saat sudah tiba di tempat penginapan, ice gel/pack ini langsung taro di freezer. Bawalah ice gelpack minimal 2 buah atau lebih, jadi saat kita taro freezer penginapan, 1 bisa dibawa saat jalan-jalan di luar penginapan, sisanya bisa tetap di freezer hotel sampai kita pulang.
  4. Kantong ASIP/Botol ASIP. Saya pribadi lebih senang menggunakan kantong ASIP daripada botol, alasannya lebih ringan dan nggak makan tempat. Selain itu lebih aman jika dibawa bepergian dengan pesawat terbang, yang kadang membatasi bawaan cairan dalam botol. Saya biasanya membawa sesuai lamanya traveling, misalnya sehari saya pakai 4-6 kantong dikali sekian hari.
  5. Nursing apron. Ini pilihan disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing yaa.. Misal mau pumping di luar kamar, jadi bisa gunakan nursing apron untuk menutupinya. Kalau saya sendiri, tidak membawa nursing apron, saya menggantinya dengan mukena saja. hehe…

Untuk mengurangi bawaan yang buanyak dan ribet selama traveling di kala harus memompa asi, kita pun harus bisa memanfaatkan barangbarang yang ada di hotel tempat kita menginap. Barang di hotel yang bisa dimanfaatkan untuk proses pumping, yang biasa saya gunakan selama ini

  1. Kulkas/ Freezer. Sampai kamar hotel, saya cek kulkasnya, ada atau tidak?, dingin banget atau dingin biasa?,  ada freezer atau tidak?. Kalau beruntung, ada kulkas yang diginnya mantap dan ada freezernya meski kecil tapi bisa untuk beku-in ice pack yang saya bawa. Atau kalau tidak ada freezernya, saya suka titip ke bagian restoran hotel untuk dibekukan di freezer mereka.
  2. Kettle/pemanas air. Ini wajib dimanfaatkan sebagai alat steril botol2 pompa asi, caranya dengan masak air panas dan kemudian rendam peralatan pompa asi, sebelumnya pompa asi dibersihkan dulu
  3. Sikat gigi hotel. Sikat gigi ini saya manfaatkan buat sikat botol dan peralatan pompa, kalau lupa bawa sikat botol yang kecil
  4. Air panas dari kran. Untuk cuci botol yang sambil disikat
  5. Handuk kecil/tisu. Untuk tatakan botol dan pompa asi ketika sudah direndam air panas
  6. Hair dryer. Kalau ada hair dryer di kamar mandi hotel, bisa juga dimanfaatkan buat pengering alat pompa asi sekalgus sterilisasi

Ini pengalaman saya sdi dunia per-pumping-an saat harus dinas ke luar kota. Alhamdulillah selama ini berjalan lancar, nggak kebingungan lagi mesti gimana-gimana. dari semua itu yang berat adalah niat, iyap niat yang harus ngotot banget untuk terus memompa asi di mana pun dan kapan pun. Haha… Semanga mengASIhi si buah hati :*

2018: Masih adakah semangat menulis?

saat saya tulis postingan ini, tidak terasa udah di bulan ketiga tahun 2018. Sebetulnya banyak sekali ide-ide yang ingin saya tuliskan. Tetapi kendalanya banyak jugaaa.. malas adalah yang paling kontribusi terbesar ^^. Coba ah saya tuliskan kenapa saya amat jarang posting di blog ini;

  1. Antara ide yang keluar dan waktu untuk menulis seringnya nggak bersamaan. Nah, saat ada kesempatan menulis, justru ide saya udah buyar blas
  2. Sulit mencari kata-kata yang tepat untuk di posting. Ini akibat kurangnya literasi saya, jam terbang minim, dan terlalu (sok) mencari tulisan yang perfeksionis atau terpengaruh gaya tulisan orang lain, yang nggak sesuai diri saya
  3. Mau coba2 berbagai fitur di blog, tapi apa daya kurang canggih dalam teknologi..hahaha. Akhirnya bosen coba sana sini, terus batal nulis deh
  4. Saya belum bisa memberi tema/feeds blog saya sendiri, jadi kurang terkonsep apa saja yang mau ditulis/posting
  5. Ketidakpercayaan diri saya dalam mem-publish hasil tulisan sendiri
  6. Saya suka merekam momen tetapi seringkali melewatkan untuk mengabadikan momen dengan dokumentasi

Nah, kira-kira hal tersbeut di atas yang bikin saya jarang sekali memposting tulisan di blog ini. Saya rajin blogging ke laman orang lain untuk cari inspirasi, tapi kadang terjebak sendiri. hahaha…

Yowes, mudah-mudahan tahun 2018 ini lebih aktif menulis, minimal laporan jalan-jalan yang biasa saya posting di Tripadvisor…xixi.

_mamamel yang lagi menunggu unduhan ms.office_

 

Melihat Merapi dari Dekat

Pengalaman baru ke Jogja kali ini, diajak jalan-jalan wisata Gunung Merapi. InsyaAllah lagi aman, lagi nggak erupsi :). Pergantian boss baru pada bulan lalu, yang ternyata pak Boss ini suka mampir ke wisata alam di tempat kita dinas, apalagi sembari mampir untuk monitoring program ke masyarakat desa-nya.
*Menuju Jogjakarta

Rabu 7 Maret 2018, kami berangkat ke Jogjakarta dan bermalam di Hotel Grand Ambarrukmo yang nggak jauh dari Bandara Adi Soecipto dan sebrangan dengan mall Ambarrukmo Plaza (Amplaz). Saya baru kali ini menginap di hotel ini, hotelnya tidak terlalu besar tapi penataan interiornya bagus sekali, bener-bener konsisten temanya dari lobby, restaurant, koridor, sampai kamarnya. Breaksfastnya juga enak dan variasi yang lumayan beragam. Harga per malamnya 750 ribu.

*Balai Ranti – Klaten

Esok harinya, Kamis tanggal 8 Maret 2018, pagi-pagi sekali kami berangkat menuju Balai Ranti di Kabupaten Klaten – Jawa Tengah. Perjalanan sekitar 1 jam lebih dari tempat kami menginap, alhamdulillah kami masih dapat pemandangan bagus Gunung Merapi, yang belum ditutupi kabut kalau siangan.

Pemandangannya…Masya Allah luar biasa sekali. Indah, segar, dan hijau. Dibalik ancaman bencana erupsi, Gunung Merapi menyimpan keindahan yang luar biasa. Bersama rekan-rekan kerja, nggak lupa kami ambil foto di sana, dengan tempat yang telah disediakan untuk foto-foto.

Bali di Bulan Februari

Kembali lagi ke Pulau Bali, kali ini tujuannya ke kawasan Nusa Dua. Jarak tempuh sekitar 1 jam dari Bandara Ngurah Rai ke arah tenggara, udah sama macetnya. Menginap di Bali selama 5 hari 4 malam, dari tanggal 19 sampai dengan 23 Februari 2018. Sebagian besar waktu akan dihabiskan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) karena ada acara kantor selama 3 hari di sini.
*Hotel Novotel Nusa Dua Bali*

Selama empat malam, kami menginap di Hotel Novotel Nusa Dua. Jangan tanya hotelnya kaya apa? Karena hotel di Bali bagi saya belum ada yang mengecewakan dari fasilitasnya, apalagi ini Hotel Novotel di Nusa Dua pula? Kereeeenn… Lagi-lagi mengahbiskan waktu di hotel saja udah cukup bagi saya, kalau mau cari liburan yang menenangkan. Dari kamarnya yang cukup besar dan fasilitas lengkap plus bathub-nya. Suasana hotel yang ada tamannya, kolam renang, resto, area bermain anak. Karena bukan dekat pantai, jadi nggak ada private beach-nya.

Saya dibuat surprise lagi saat malam kedua, suami yang kebetulan dinas bareng, baru akan check-in di malam kedua saya di Bali. Ternyata kamar dia di upgrade ke tipe Suite Room, harusnya di Deluxe Room. Ohya, harga kamarnya per malam 1,3 juta untuk Deluxe Room dan 1,8 juta untuk Suite Room. Saat masuk kamar Suite, wooow ini mah apartemen! Ada ruang tamu, pantry, ruang makan, balkon yang besar, dan dua kamar tidur serta kamar mandinya yang terpisah.

Dan lebih senangnya lagi buat saya yang harus memompa asi, ada kulkas besar yang freezernya gede, tempat cuci piring plus sabunnya, dan kettle air panas untuk sterilin botol. Alhamdulillah… 😀

Ini kamar diperuntukkan buat keluarga yang stay lama. Secara bule-bule banyak yang menetap agak lama kalau ke Bali kayanya yaa..

Saya coba share video kamar Suite Room alias family room 😀

*Bali Nusa Dua Convention Center*

Acara kantor diselenggarakan di BNDCC, letaknya nggak jauh dari tempat kita menginap, masih satu kawasan sih, sekitar 5 menit dengan mobil. Kalau mau niat, jalan kaki juga bisa sih, tapi kan orang kita terkenal malas jalan kaki jauhnya. Haha..

Tempat ini besar banget untuk tempat meeting-nya. Ada tiga gedung yang berhubungan, satu gedung ada ballroom yang super besar, dan beberapa ruang rapat agak kecilan sebanyak 3 lantai, gedung lainnya yang isinya meeting room semua. Saya suka banget dengan BNDCC ini, karena mampu dalam menggelar acara besar dengan kapasitas tamu sampai 3000-an dengan amat baik. Kenapa baik? Selama acara, AC selalu dalam keadaan dingin di semua ruangan dan setiap lantai, ruangan dan koridor bersih selalu, sound system bagus banget, pencahayaan alias lampu juga berfungsi amat baik, toilet ada di beberapa tempat dan semuanya bersih plus selalu ada tissue, snack dan makanan nggak pernah kekurangan, plus staf banquet dan staf restonya jumlahnya banyak dan standby. Selain itu rasa makanan juga enak dan musholla disediakan satu ruang besar, mengingat tamu banyak.

Puas banget selenggarakan acara besar di tempat ini, hampir nggak ada missed-nya selama acara berlangsung. Dari fasilitas, ruangan, dan stafnya semua mendukung dengan baik.

*Pantai Pandawa*

Di sela padatnya acara kantor, kita sempatkan diri bermain ke luar area BNDCC. Tujuan kita nggak jauh dari Nusa Dua, yaiut Pantai Pandawa. Saya baru sekali ini ke Pantai Pandawa, letaknya ada di selatan Pulau Bali, tapi saya sering dengar bahwa tempat ini salah satu tujuan wisata di Bali.

hampir tiba di Pantai Pandawa, kita disuguhi bukit batu besar yang di beberapa dindingnya dibuat cerug untuk meletakkan patung-patung dewa/dewi Hindu. Tiba di pantainya, masya Allah indah warnanya, air biru, pasir putih-coklat muda, dan masih bersih. Pantai ini menjadi tujuan wisata bagi turis lokal (orang Indonesia), saya hanya melihat 2-3 orang bule saat di sana dan ratusan turis Indonesia terutama rombongan study tour dari sekolah-sekolah se-Indonesia.

Parkirannya lumayan luas karena untuk menampung bus-bus rombongan, banyak menjual jajanan di warung-warung kecil, sebagian besar jual air kelapa, makanan warteg, jajanan kecil, ada juga toko souvenir jual baju-baju. Sebagian besar makanan halal, karena yang berjualan banyak yang dari Jawa. Kami pun sempat menikmati air kelapa langsung dari batoknya, ditemani batagor dan cireng bandung. Alhamdulillah…

*Makan malam di Jimbaran*

Malam sebelum kembali ke Jakarta esok harinya, kami menyempatkan diri makan malam bersama di Jimbaran. Lumayan malam kami tiba di sana, untungnya masih bisa pesan makanan. Kami rombongan ada 20-an orang, pesan menu utama seafood serta sayurannya. Sebelum makan utama dihidangkan, kami disuguhi sup telur jagung yang sudah tidak hangat lagi, agak lama menunggu sampai hidangan utama datang. Saat makanan utama sudah disajikan, kita langsung melahapnya dan alhamdulillah ikannya enak banget. Saya sampai habis banyak makan ikannya, ikannya segar dan bumbunya enak.

Malam itu di Jimbaran, ditemani tawa canda teman-teman, nyala lilin, angin laut, beratapkan langit malam dengan sedikit bintang, dan makanan enak…Suasananya dapet banget, rasa makan di Jimbaran 😀