Diposkan pada tentang belajar, tentang diri sendiri, tentang keluarga

NHW #7: Tahapan Menuju Bunda Produktif

super-mom-vector

Sebelumnya dikarenakan lagi banyak pekerjaan di kantor dan di rumah nggak bisa kepegang laptop sama sekali. Padahal saya rinduuu banget menyelam di matrikulasi IIP, kangen pembahasannya, inspirasi-inspirasi yang luar biasa dari para bunda & calon bunda, diskusi para ahlinya daaan serunya mengerjakan NHW. NHW ini membuat saya membongkar diri sendiri, seperti membongkar lemari yang  berantakan dan penuh dengan barang-barang yang tidak berguna. Jadi sejak ikut matrikulasi IIP, saya meng-nol-kan diri, keluar-keluarin yang nggak perlu, fokus pada apa yang seharusnya dilakukan. Perlahan, insyaAllah saya menemukan jati diri saya dan melalui waktu dengan aktivitas yang bermanfaat.

Memasuki NHW ke tujuh, menarik sekali karena kita dikasih link temubakat.com, dimana hasilnya menggambarkan bakat kita, kekuatan kita. Saya mencoba tes temubakat ini dua kali, yang pertama saya mengisi di kantor, dalam keadaan sedikit mengantuk, hasilnya mendekati dengan diri saya. Tes kedua, saya mengisi dalam keadaan segar, malam hari, tanpa gangguan sekitar, tetapi hasilnya agak kurang cocok dengan saya saat ini, tetapi sepertinya cocok dengan diri saya saat masih kuliah. Hehe..

Maka dari itu, saya akan pakai hasil tes temubakat yang pertama, karena lebih cocok dengan diri saya saat ini 😊. Ini dia hasil ST30 saya di temubakat.com;

IMG_20170713_235316

Setelah mengetahui hasil tes bakat saya, yang kebetulan mendekati dengan diri saya saat ini, saya mencoba buat kuadran aktivitas dengan kategori:

Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi andaTIDAK BISA

Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA

Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

 

SUKA & BISA

–   Merapikan dan membersihkan ruangan/rumah

–   Membaca buku

–   Membuat kue

–   Mendesain ruangan/interior

–   Olahraga senam

–   Mencatat hal-hal penting

–   Menulis catatan keseharian

–   Berdagang

TIDAK SUKA & BISA

–        Menyetrika pakaian

–        Bekerja di luar kota

–        Tidur larut malam

–        Packing

–        Belanja boros

SUKA & TIDAK BISA

–   Menyetir kendaraan

–   Olahraga berenang

–   Melakukan perencanaan dengan baik

–   Berbicara di depan publik

–   Memasak

–   Menjahit

–   Berbahasa asing dengan fasih

–   Menyampaikan ide secara spontan

–   Berpikir & berbuat kreatif

TIDAK SUKA & TIDAK BISA

–        Memerintah orang lain

–        Membiarkan meja kerja/ruangan berantakan

–        Melewatkan rutinitas sebelum tidur malam

–        Paparan materi pekerjaan di depan publik

–        Berbohong

–        Melakukan hal-hal mubazir

 

 

Diposkan pada tentang belajar, tentang diri sendiri, tentang keluarga

Matrikulasi IIP #7: Rejeki itu Pasti, Kemuliaan Harus DIcari

Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #4, sesi #7

REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.

Para Ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah

bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga

Semua pengalaman para Ibu Profesional di Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah KEMULIAAN hidup.

“Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI”

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka

Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1⃣menambah syukur,

2⃣menegakkan taat

3⃣berbagi manfaat.

 

Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

 Sumber Bacaan:

Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014

Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010

_Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

 

Diposkan pada tentang anak, tentang belajar, tentang diri sendiri, tentang keluarga

NHW #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

unnamed.png
taken from googleplay

Sesungguhnya, ini tugas NHW yang cukup berat bagi saya. Karena saya orangnya nggak fokus dalam menentukan prioritas selama ini. Kebiasaan saya adalah menelan banyak ilmu dan hanya mengetahui permukaannya saja.

Melalui IIP ini, saya sadar bahwa metode pembelajaran saya terhadap diri sendiri selama ini kurang tepat. Semoga kelak, saya bisa membenahi diri sendiri dan kemudian menuntun anak-anak dengan cara yang benar dan tepat, sesuai fitrahnya. Aamiin..

====================================================================

Melissa Aprilia_NHW#4

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Jawaban:

Apa yang telah saya tentukan di NHW#1 tentang jurusan ilmu yang saya pilih, sebenanya belum benar-benar saya terapkan, bahkan sekedar mencari tahu teorinya saja belum saya lakukan. Akan tetapi, saya merasa jurusan ilmu yang saya pilih masih terlalu luas lingkupnya, ada baiknya saya mereview dan merenungkan kembali jurusan ilmunya lebih spesifik agar saya benar-benar dapat fokus dalam mencari ilmunya dan kemudian mengamalkannya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Jawaban:

Checklist yang telah saya buat di NHW #2, belum semuanya saya kerjakan dengan tepat dan konsisten. Akan tetapi, setiap saya akan melanggar (atau sudah melanggar), saya ingat kembali dengan checklist di NHW#2 itu, sehingga menjadi peringatan buat saya agar mematuhinya (dan kurang-kurangin reason di saat mau melanggarnya)..hehe. Saya akan review lagi dan melakukan checklistnya apa-apa yang sudah saya lakukan.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Jawaban:

Setelah merenungkan dalam waktu yang singkat (karena mau deadline pengumpulan NHW#4, hehe..) janga ditiruuu.. :D. Dalam kehidupan sehari-hari, saya senang sekali apabila keluarga dalam keadaan baik-baik saja, sehat, dan tercukupi kebutuhannya. Bahkan sebelum tidur malam pun, saya akan melakukan checklist dalam pikiran apa saja rutinitas malam yang sudah saya lakukan, agar tidak ada yang tertinggal/kelupaan dan to-do-list apa-apa saja yang mau saya lakukan besok.

Misi Hidup : menerapkan hidup sehat dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Bidang ilmu yang akan dipelajari:

  • Pendidikan Parenting

Tujuan: meningkatkan pengetahuan sebagai orang tua dan cara pengasuhan anak-anak yang benar dan tepat. Peran: Mentor

  • Pendidikan kesehatan jasmani dan rohani

Tujuan: memperkaya ilmu tentang kesehatan dan menerapkannya di rumah untuk anggota keluarga lainnya dan lingkungan. Kesehatan yang dimaksud dalam hal ini dominan preventif. Kesehatan rohani berhubungan ibadah dan pikiran positif. Peran: Fasilitator dan Pelaksana

Sesungguhnya saya masih bingung dalam membagikan diri debagai individu dan diri sebagai seorang ibu/istri. Hehe..Semoga dalam perjalanan saya di IIP ini semakin mencerahkan saya agar lebih fokus dengan misi dan peran hidup saya yang sebenarnya.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Misi hidup yang coba saya tuliskan di atas adalah menerapkan hidup sehat dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Maka ilmu-ilmu yang harus saya pelajari adalah:

  1. Pendidikan parenting. Sejak anak pertama saya sudah mengetahui akan pentingnya pendidikan parenting ini bagi saya dan suami serta anak-anak, tapi saya belum mempelajarinya dengan serius. Setelah anak kedua lahir, saya bertekad ingin belajar lebih lagi tentang mendidik anak dengan baik dan tepat.
  2. Pendidikan kesehatan. Kesehatan preventif yang berbasis alami ingin sekali saya pelajari dan terapkan untuk diri sendiri dan keluarga. Adapun kesehatan drohani dengan mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan ibadah dan berpikiran positif. Bagi saya penting sekali mengutamakan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari demi kelancaran melakukan aktivitas lainnya yang bermanfaat.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup.

Untuk memenuhi misi hidup saya, maka saya harus menetapkan titik awal yaitu KM 0. Saya tetapkan KM 0 saya pada saat ini, usia 30 tahun (2017), sejak saya mengenal IIP dan anak kedua lahir hehe…milestones yang coba saya susun adalah sebagai berikut:

KM 0 – KM 1: Menguasai pendidikan parenting untuk saya dan suami

KM 1 – KM 2: Menerapkan hidup sehat dari dalam diri dan keluarga

KM 2 – KM 4: Meningkatkan kesadaran akan kesehatan

KM 4 – KM 5: Membudayakan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Secara umum sudah saya tuliskan di awal, namun untuk spesifiknya saya akan revisi kembali.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.

Bismillahirrohmaanirrohiim….

Diposkan pada tentang anak, tentang belajar, tentang diri sendiri, tentang keluarga

Materi #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4
🌱 #MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH🌱

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“ Just DO It”,

lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita, bukan pada Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu
PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH
Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.
Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan :
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016

Diposkan pada serba serbi, tentang anak, tentang belajar, tentang diri sendiri, tentang keluarga, tentang kita

NHW #3: Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Memasuki Nice homework lagii…dan kali ini melibatkan Papayo untuk melihat responnya dari kejutan yang say berikan..Hehehe.

Soal:

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

===========================================================================

Jawaban:

  • Saya dan suami

Akhirnya saya berhasil bikin surat cinta buat suami. Hehe… Untuk memulainya sulit bener karena bingung yang mau disampaikan apa. Pada suatu malam di saat pak suami lagi tarawih ke masjid, saya coba untuk mulai menulis suratnya. Ternyata setelah memulai..lancaaaar banget kata-kata mengalir dan nggak terasa udah jadi 5 lembar kertas ukuran B5..hehe. Surat dimasukkan ke dalam amplop biru ditemani hadiah kecil berupa parfum, dipercantik pita biru. 🙂

Pak suami baru ngeh keberadaan surat dan hadiahnya saat tengah malam dan saya sudah tertidur..hihi. Dan reaksinya setelah baca surat dan terima hadiah, dia datang ke saya, bilang terima kasih disertai kecupan 😊.  Keesokan harinya, hatinya berbunga-bunga.

20170602_204028-02.jpeg

  • Saya dan Anak-anak

Saya memiliki 2 orang anak perempuan, si kakak usia 4 tahun dan adik masih 4 bulan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari anak-anak. Awalnya saya nggak paham dengan konsep “anak adalah guru bagi orangtuanya”, ternyata seiring perjalanan membesarkan dan mendidik kakak dan adik, saya paham bahwa anak-anak inilah yg memberikan kami (orangtuanya) ujian agar kami lulus menjadi orangtua pada tiap tahapnya.

Saya pun mulai menyadari sifat, sikap, kode-kodean, dan potensi yang dimiliki anak sulung saya. Meskipun sampai saat ini saya masih terus belajar mengenal dan menggali potensi dalam diri anak-anak, termasuk si kecil yang masih usia 4 bulan.

Kakak memiliki sifat yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain. Dia tidak segan-segan mengajak bicara duluan orang lain yang bekerja di rumah, misal perawat kakeknya, mba art, pengasuh, atau bahkan tukang bangunan yang sedang renovasi rumah. Pun dia pun akan berbicara dengan orang lain di luar yang menyapa dia duluan, seperti pegawai toko, petugas bandara, dan lainnya. Ketika dia berbicara pun jelas dan bisa dimengerti dengan lawan bicaranya, meski masih terselip bahasa anak-anaknya. Hehe..

Kakak juga tipe pembelajar yang cepat, terutama dengan media audio-visual seperti televisi, youtube di smartphone, dan buku cerita bergambar yang dibacakan. Kami di rumah juga tidak menerapkan “bahasa bayi” jika berbicara dengan anak-anak sedari mereka masih bayi sekalipun. Dan ini mempengaruhi kakak dengan cara bicaranya yang cepat dan jelas jika berbicara.

Saya termasuk yang percaya bahwa anak-anak memiliki sisi seni dalam dirinya, sebab itu saya coba mengulik-ulik seni yang disukai kakak, dan saat ini saya melihat bahwa kakak suka sekali mewarnai dan kadang-kadang menggambar, meski yang menggambar masih tahap belajar. Hehe.. Tapi saya tetap puji apa pun hasil gambar dia yang berasal dari imajinasinya 😊

Si adik yang masih berusia 4 bulan, saya belum melihat potensinya. Yang saya pelajari adalah ko-kodean dia dalam kebutuhannya seperti saat dia haus mau mimi, saat dia mengantuk dan ingin digendong, saat dia sedang mempelajari sesuatu, saat dia sedang butuh stimulus apa sesuai dengan gerakan tubuhnya dan usianya, saat dia tidak nyaman dengan diapernya yang penuh dan sebagainya..insyaAllah saya sudah paham sebagian besar kode-kode dia meski masih banyak kode lainnya yang belum saya paham cara mengatasinya. Hahaha…

  • Saya dan Diri Sendiri

Bagaimana dengan diri saya? Hmm…selama ini saya hanya menonjolkan ketidakmampuan saya, karena saya tipe orang yang tidak percaya diri. Saya suka sekali menulis dari kecil, terutama menulis diary semacam di blog ini, karena saya tidak mampu berkata dengan baik dan lengkap saat komunikasi langsung dan spontan. Tapi melalui tulisan, saya mampu mengeluarkan isi pikiran saya.

Belakangan ini saya membenahi diri, mengingat usia yang semakin bertambah tua :D, saya juga belajar dari lingkungan sekitar. Akhirnya saya mulai mengenal diri saya sendiri, yakni saya yang senang bergabung dalam komunitas, saya yang berusaha menjunjung sikap jujur, saya yang ingin selalu terlihat ruangan rapi dan bersih, saya yang suka melakukan perencanaan, dan saya suka mendengarkan/membaca pengalaman orang lain sebagai inspirasi bukan membandingkan.

Meskipun saya bekerja, saya memprioritaskan keluarga diatas urusan pekerjaan kantor, sedangkan suami yang saya lihat lebih prioritas urusan pekerjaan (dan saat ini kuliahnya) daripada urusan keluarga. Tapi suami tetap bisa mengurus anak-anak, cuma yang lebih diandalkan dalam urusan anak-anak tetap saya sebagai ibunya..hehe.. Awalnya saya keberatan mengapa urusan anak-anak lebih diberatkan ke saya, sedangkan kami berdua sama-sama bekerja. Akhirnya saya pun menerima sebab masalah prioritas tadi. Pak suami biar konsentrasi di pekerjaannya dan saya yang mengurus rumah secara menyeluruh.

Pak suami juga tipe yang let it flow dan saya suka berencana, jadi untuk menghindari waktu luang terbuang sia-sia, saya suka merencanakan dengan kegiatan yang berkualitas bersama keluarga dan saya butuh dukungan pak suami untuk eksekusi dari perencanaan yang saya buat, karena saya lalai di kala eksekusi…hahaha.

Alhamdulillah anak-anak dekat dengan saya sebagai mama mereka, meski saya bekerja kantoran dan kadang-kadang dinas luar kota juga, sehari-hari mereka dirawat neneknya dan ada pengasuh sejak anak kedua lahir, tapi tetap saya idola mereka (senangnyaa…). Kakak juga cepat mandiri karena mamanya bekerja dan mudah akrab dengan orang lain.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang menomorsatukan ibadah dan ilmu agama sebagai bekal dasar. Alhamdulillah berkat kegigihan kedua orangtua dalam mengajarkan dan mengamalkan agama dalam keseharian, kami semua tetap giat belajar kajian agama hingga saat ini dan insyaAllah ibadah tidak sengaja ditinggalkan. Maka dari itu, saya pun ingin membesarkan dan mendidik anak-anak dengan bekal dasar ilmu agama Islam, dalam semua aspek. Semoga kelak mereka menjadi pribadi yang baik dan solehah/soleh.

  • Saya dan Lingkungan

Lingkungan yang saya definisikan di sini adalah rumah kedua orangtua saya dan sedikit tentang lingkungan sekitar rumah orangtua. Kami masih menumpang di rumah orangtua saya, dengan beberapa alasan yang kuat.

Sampai pada tahun 2015, Papa saya sakit berturut-turut dan pada akhirnya terserang stroke di bulan Agustus 2015. Abang saya yang sebelum menikah tinggal di rumah, pindah ke luar rumah. Akhirnya tinggal keluarga kami yang di rumah, guna menemani kedua orangtua saya, membantu sedikit secara ekonomi karena kedua orangtua saya sudah pensiun, meramaikan suasana rumah dengan kehadiran cucu, menyemangati Papa dan menemani curhatan Mama. Abang sulung saya tinggal tidak jauh dari rumah orangtua bersama keluarganya, dia juga banyak sekali membantu orangtua di saat-saat genting.

Meski saya dan pak suami sudah menyicil rumah di daerah selatan, tapi kami belum niat untuk pindah. Selain lokasi tidak dekat dengan kantor, pengawasan anak-anak, saya pribadi tidak tega meninggalkan kedua orangtua yang butuh support. Semoga pak suami ridho dengan keadaan ini..aamiin. (PR saya berikut nih untuk berbicara sama pak suami tentang ini) 😀

Untuk lingkungan sekitar rumah orangtua, saya dan pak suami tidak terlalu terlibat banyak karena kami berdua sama-sama bekerja dari pagi sampai penghujung sore. Mungkin secara tenaga atau peran kami hampir tidak ada sumbangsihnya, tapi kami menggunakan jasa tetangga sebagai asisten rumah tangga dan supir.

============================================================================

Alhamdulillah..melalui tugas NHW kali ini, saya “dipaksa” untuk mengenal sekeliling saya dan manfaat saya berada di dalamnya.

wallpaper10-01

Diposkan pada tentang belajar, tentang diri sendiri, tentang keluarga

Materi #3: Peradaban dari dalam Rumah

 

Materi Sesi #3

PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

👨👩 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH👨👩

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.

Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.

Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

🙋 PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

  1. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
  2. Adakah yang membuat anda bahagia?
  3. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
  4. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.

Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨👩👧👧 NIKAH

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

👩👧👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

  1. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
  2. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
  3. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena

Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang

Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan

Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

 

SUMBER BACAAN

Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013

Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016

Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015

Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

Diposkan pada tentang anak, tentang diri sendiri, tentang keluarga

NHW #2: Menjadi Ibu Profesional, Kebangaan Keluarga

rcnr5LR5i

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

Setelah menerima meteri matrikulasi #2 tentang profesionalisme perempuan, kita diminta untuk melakukan checklist indikator profesionalisme perempuan. Kunci membuat indikator profesionalisme ini mengcau pada SMART:

– SPECIFIK (unik/detil)
– MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
– ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
– REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
– TIMEBOND ( Berikan batas waktu)⁠

Saya coba menyusun checklist indikator ini dengan latar belakang saya sebagai:

  • Pegawai perkantoran yang bekerja 5 hari seminggu, (berangkat) pukul 7 pagi dan pulang (tiba di rumah) pukul 6 sore, terkadang dinas ke luar kota sekitar 2-4 hari
  • Seorang istri dengan rumah tangga kami yang masih bergabung dengan rumah tangga kedua orang tau saya
  • Seorang ibu dari 2 anak perempuan, anak sulung berusia 4 tahun dan anak kedua berusia 4 bulan
  • Seorang anak yang masih menumpang tinggal di rumah orang tua, dengan bapak yang sedang terkena stroke (sudah hampir 2 tahun) dan ibuku yang selalu memasak hidangan untuk di rumah

Bismillahirrohmanirrohiim…

 

Sebagai Individu

Apa saja indikator profesionalisme perempuan versi saya sebagai individu? Menurut saya, untuk dapat menjadi perempuan profesionalisme, maka didukung dengan kedisiplinan, melakukan ibadah dengan ikhlas, kesehatan dan kebugaran, memperkaya ilmu dan skill.

No Indikator Penjelasan Target Tercapai?
Ya Tidak
1 Bangun tidur dan tidur malam tepat waktu Bangun tidur pagi jam 4.30 selambat-lambatnya jam 5 pagi dan tidur malam segera setelah anak-anak tidur & urusan selesai Setiap hari, termasuk hari libur    
2 Sholat di awal waktu Segera dirikan sholat setelah mendengar adzan 5 waktu dalam sehari. Dimanapun, di rumah dan di kantor dan tempat lainnya    
3 Olahraga ringan Melakukan olahraga dengan gerakan ringan, seperti gerakan pemanasan Setiap hari selama 5-10 menit, pagi hari atau sore/malam hari    
4 Mendengarkan pengajian/ceramah agama Mendengarkan pengajian/ceramah via online atau di masjid 2 kali dalam seminggu    
5 Konsumsi makanan/minuman yang sehat Mengonsumsi makanan & minuman yang sehat, dengan porsi yang tepat dan waktu yang teratur 3x makan besar, 2-3x cemilan (salah satunya ada buah), minum air putih yang cukup, dan konsumsi madu/vitamin    
6 Bersedekah Membiasakan diri melakukan sedekah, termasuk ramah ke orang lain Setiap hari, utamanya hari Jumat (untuk sedekah bentuk harta)    
7 Tidak menunda pekerjaan kantor Pekerjaan kantor dikerjakan di kantor, dikerjakan sesegera mungkin sehingga tidak perlu dibawa ke rumah Setiap hari kerja    
8 Meningkatkan kemampuan memasak dan menjahit Mempelajari teorinya dan utamanya melakukan praktiknya – 1x seminggu melakukan praktik memasak

– 2x sebulan melakukan praktik menjahit

   
9 Menulis dan memposting sesuatu yang bermanfaat & menginspirasi di blog dan media sosial Menulis dan memposting sesuatu yang menginspirasi dan sharing hal bermanfaat di dunia maya 2x seminggu    

Sebagai Istri

Saya bertanya ke suami, kira-kira indikator apa saja yang suami inginkan dari saya sebagai istrinya. Dan jawabannya hanya satu; membuat masakan buat keluarga. Hahaha… 😀

Jadi karena jawaban suami teramat singkat, saya coba membuat list (yang mudah-mudahan di-amin-kan suami juga).

No Indikator Penjelasan Target Tercapai?
Ya Tidak
1 Memasak untuk keluarga Membuat masakan berupa lauk-pauk 1 kali seminggu di hari libur    
2 Ramah dan tersenyum Tersenyum dan bersikap ramah kepada suami Setiap saat    
3 Berpikiran positif ke suami Berpikiran positif terhadap sikap suami meski tidak sesuai harapan saya Setiap saat    
4 Bersih dan wangi Selalu dalam keadaan bersih dan wangi di depan suami Setiap hari dan sepanjang hari    
5 Menyiapkan sarapan dan vitamin suami Menyiapkan sarapan serta vitamin, madu, teh di pagi hari Setiap hari    
6 Menyiapkan pakaian kerja suami   Setiap hari    

Tiga poin di atas, pernah diungkapkan suami ke saya saat kita sedang diskusi beberapa bulan lalu. Sedangkan poin-poin di bawahnya saya sendiri yang menerjemahkan dari sikap suami. Hehe…

 Sebagai Ibu

Sebagai ibu, saya membuat list indikator dengan bertanya ke anak sulung (4 tahun).

Saya: “Kak, kakak maunya mama kaya gimana?”

Kakak: “Kaya gini aja…mama yang pakai kacamata.”

🙂 😀

Yaa itulah jawaban polos seorang anak kecil, akhirnya saya coba ulik-ulik lagi maunya mamanya bagaimana dan berikut ini beberapa listnya.

 

No Indikator Penjelasan Target Tercapai?
Ya Tidak
1 Bermain bersama Bermain bersama dan membacakan buku anak di saat mereka memintanya Setiap hari    
2 Tidak marah-marah Tidak mudah marah-marah, berteriak ataupun membentak Setiap saat anak terasa mulai susah diatur    
3 Mencium dan memeluk Mencium dan memeluk anak-anak Setiap hari, utama oada malam hari sebelum tidur    
4 Mengajak jalan-jalan ke luar Mengajak jalan-jalan ke luar rumah di saat libur, bisa ke taman, mall, playground, atau sekedar mini market Setiap hari libur    

Mungkin masih banyak indikator-indikator yang belum dimasukkan dalam list, tapi ini beberapa poin yang saat ini saya butuhkan untuk diri saya sebagai individu, istri, dan ibu. Semoga saya bisa menjalaninya serta fokus terhadap indikator dan target yang telah disusun.

Menjadi profesionalisme bukan berarti menjadi serba bisa dan sempurna, tetapi dirasakan cukup bagi diri sendiri dan orang sekitar yang merasakannya.