NHW #1: Adab Menuntut Ilmu

manajemen-waktu-760x506

gambar diambil dari bisnisukm.com

Setelah dapat materi #1 tentang Adab Menuntut Ilmu, lalu dibuka sesi tanya jawab terkait materinya dan kemudian dikasih tugas berupa Nice Homework ini atau disingkat NHW. Bagaimana jawabnya? bingung-bingung gimanaaa gitu…haha. Ok, mari mencoba 🙂

Bismillahirrohmaanirrohiim….

=========================================================================

Melissa Aprilia_NHW#1

1.Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Jurusan ilmu yang ingin aku tekuni dalam kehidupan ini sebetulnya banyaaak banget. Dan bisa berubah sesuai situasi dan kondisi yang aku alami. Pada saat ini, jurusan ilmu yang ingin aku tekuni adalah manajemen waktu yang efektif.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Kenapa manajemen waktu?

Karena ini satu permasalahan yang selalu ada buat aku di setiap kondisi. Dari jaman aku kecil sampai bekerja dan berumah tangga. Permasalahan manajemen waktu semakin rumit saat sudah berumah tangga sekaligus bekerja. Rasanya kok waktu sehari 24 jam terasa kurang yaaa..sedangkan tahun berganti tahun rasanya cepat sekali.

Waktu-waktu yang dilalui terasa terbuang begitu saja dan kurang berkualitas. Oleh karena itu, aku ingin memanajemen waktu yang kupunya dengan lebih efektif dan produktif, sedangkan urusan semakin banyak dan rumit dan usia yang kian bertambah.

3.Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

– membaca teori-teori mengenai manajemen waktu, baik dari buku maupun internet

– memilah waktu yang rutin dan prioritas dalam keseharianku, misal waktu untuk keluarga, pekerjaan, ibadah, kebutuhan dasar, dan waktu untuk hobi dll.

– membuat jadwal yang tertulis maupun tidak tertulis. Jadwal ini bisa bersifat harian, mingguan, atau bulanan.

– Ada target yang dicapai serta prioritas yang didahulukan apabila ada urusan yang waktunya berbarengan.

– Menerapkannya sesuai jadwal yang sudah dibuat, usahakan sesuai jadwal (#jangankasihkendor).

– Namun apabila jadwal tidak bisa terealisasi dengan pas, mulai atur waktu penggantinya,agar target tetap tercapai

– Menciptakan suasana yang nyaman untuk diri dalam mengatur waktu ini untuk menghindari stres

– membuat kebiasaan selama 21 hari, karena beberapa teori menyatakan apabila kita sudah melakukan aktivitas yang runut selama 21 hari, maka akan terbentuk kebiasaan. Dari kebiasaan ini menjadikan tubuh dan pikiran kita bekerja sesuai yang telah dijadwalkan, misalnya bangun pagi setiap jam 5 pagi.

4.Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Dalam proses mencari ilmu, sudah seharusnya ada sikap-sikap yang harus aku perbaiki. Pertama, aku  harus fokus ilmu apa yang hendak aku tekuni, kemudian rajin dalam mencari teorinya dan mengamalkannya. Aku pun harus konsisten dengan ilmu yang aku tekuni tersebut dan mau menerima masukan yang baik. Intinya dilarang malas dalam mencari ilmu dan mengamalkannya.

=========================================================================

“Demi Masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan ama saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Asr: 1-3)

Materi #1: Adab Menuntut Ilmu

teruslah-menuntut-ilmu

gambar diambil dari google

KELAS MATRIKULASI BATCH #4
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 15 Mei 2017

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu TIDAK mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Gentlebirth di tahun ’70an

Pada Jumat ini, aku bertemu dengan ibu yang beruntung di sebuah salon khusus wanita. Saat sedang di treatment oleh ibu ini, dia bercerita tentang pengalamannya melahirkan anak laki-laki 5 orang! Iyak, 5 orang saja… Huft, dari jumlah anaknya aja aku udah salut sama ibu ini. Kemudia si ibu meneruskan ceritanya bahwa dia melahirkan 5 anak laki-lakinya denga spontan/normal TANPA sobekan dan jahitan. Masya Allah…

Kok bisa?

Maha Suci Allah yang menakdirkan ibu ini melahirkan dengan mudah. Anak pertamanya, pada saat sudah masuk masa kontraksi rutin, posisi sudah di RS dan tetiba si ibu merasa ngantuk sekali. Lalu dia ijin ke dokter untuk tidur dan dokter mempersilakan. Beberapa saat kemudian, si ibu dibangunkan dokter dan mengabarkan bahwa bayinya sudah lahir. Hah?! Ini lahiran spontan via vagina lho, bukan operasi sc. Maha Besar Allah.

Lalu anak ke-4 dilahirkan tanpa si Ibu mengeden, jadi posisinya ibu sudah kontraksi hebat. Dibawa ke RS dan tiba disana si ibu dipindahkan ke kursi roda. setelah dari kursi roda hendak dipindahkan ke tempat tidur. Namun..baru melangkah sekali, anak ke-4 langsung lahir.

Anak ke-2, ke-3, dan ke-5 lahir dengan lancar, cepat dan tanpa sobekan perineum. Kok bisa ya? Apakah si ibu rajin ikut senam hamil, yoga hamil, relaksasi, jalan kaki dll? Sama sekali nggak. Boro-boro deh…toh ibu ini melahirkan anak-anaknya di tahun 70-an, mana kenal dengan yoga dll itu. Terus apa donk rahasia si ibu melahirkan dengan lancar, tenang, minim trauma dan 2 kali melahirkan tanpa ngeden. Ibu ini menerapkan filosofi gentlebirth, meski di zamannya belum kenal isitilah gentlebirth.

Rahasianya apa ya? si ibu selama masa hamil hanya menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Dimulai dari menyapu, mengepel bahkan sampi ke kolong tempat tidur, mencuci baju manual, meyetrika, dsb., semua dilakukannya setiap hari. Menjelang melahirkan, si ibu minum minyak kelapa murni. Dan nggak lupa, si ibu ini selalu berpikiran positif, senang, dan semangat.

Bahkan sudah usia 63 tahun saja masih segar bugar, meski ada sakit di pinggangnya beberapa bulan lalu, sekarang sudah kembali bekerja dengan sehat.

So, kalau melahirkannya kaya ibu ini, berani 5 anak nggak? 😀

images

Hello (nice) baby blues

Masa postpartum mari bertemu dengan baby blues syndrome. Hello again ^^. Kok ada kata “nice”nya yah? Karena BBS aku saat ini lebih banyak perenungan sampai akhirnya rasa ikhlas yang bener2 terasa blaasss…

BBS aku lebih banyak karena “belum terima” sepenuhnya kenapa harus melahirkan belum waktunya (belum keinginan bayinya), tensi tinggi menjelang melahirkan, bukan persalinan normal yang lembut, minim trauma, lancar jaya, bahkan bayi harus terpaksa diinduksi untuk dikeluarkan, dan usaha mau melahirkan indah dengan penuh kesadaran rasanya sia-sia.

Aku juga merasa bersalah ke anak kedua, karena dia dipaksa lahir sebelum waktunya (kontraksi sendiri), sejak usia kandungan 5 bulan aku tiap hari minum kopi hitam! Iya, aku jadi pecinta kopi hitam banget banget (tapi nggak tau deh ini pengaruh bahaya ke janin atau nggak), trus kurang konsumsi makanan/minuman bergizi, dan sering stress (stres di rumah dan di kantor juga). Rasanya ingin mengulang kehamilan anak kedua ini..hiks.

Dan rasa bersalah ke anak pertama, karena sejak kehadiran adiknya, Kiya jadi caper banget. Gampang nangis, gampang marah, gampang teriak2, pecicilan banget..bedaa banget sebelum ada adiknya. Alhasil, Kiya jadi disodorin iPad mulu..duh, tak tega aku. Perlahan mulai cari cara untuk aku sabar dan nurutin apa mau dia dulu, pelan-pelan sambil selip2in belajar, bercanda dan bermain sama Kiya, dan berusaha nahan bentak2 ke dia.

Aku pun merenung, menangis, cerita ke suami dan cerita ke mommies kece di birthclub anak pertama, sambil terus berpikiran positif, tidak lupa inhale-exhale napas, dan afirmasi positif bahwa aku sehat dan bahagia saat ini, daaan senyuuum :)). Karena pesan dokter dengan tensiku yang masih tinggi ini, aku nggak boleh capek dan nggak boleh stress. Alhamdulillah aku dapat melalui masa BBS ini hanya seminggu saja, itupun nggak parah-parah banget seperti dulu anak pertama.

So, gimana caranya bebas cepat dari BBS dan nggak dramatisir banget? Kalau yang kulakukan kemarin:

  1. Banyak2 ucap syukur ke Allah dan istighfar
  2. Cerita ke suami atau orang terdekat
  3. Tumpahin emosi yang dirasakan, misal menangis dan berpelukan
  4. Rileksin tubuh dan pikiran (inhale-exhale napas sering2 sambil senyum)
  5. Afirmasi positif ke diri sendiri
  6. Perkaya diri dengan pengetahuan

Mari mengulang rutinitas newborn dan nikmatilah: begadang, ganti popok, menyusui, gendong timang-timang, mandiin, jemur matahari, pumping asi, dan surfing di online shop *uuppss.. 😉

 

 

 

Kelahiran Kamila ke Dunia

Alhamdulillahirrobil ‘alaamiin..
Telah lahir putri kedua kami, Kamila Alesha Nugroho, pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2017 pukul 22.23 WIB. Si kecil lahir di usia kandungan 37 minggu dengan BB 2800 gram dan PB 47 cm.

image

Dan cerita kelahiran anak keduaku, ternyata tidak semudah yang aku harapkan dan jauh dari apa yang aku usahakan selama kehamilannya. Semua kembali kepada takdir Allah SWT, pasrah sepasrahnya. Mungkin dalam ceritaku ini masih nyelip rasa “tidak terima”, tapi aku berusaha ikhlas menerima apa yg telah Allah gariskan. InsyaAllah..mohon ampunan dan petunjukMu Yaa Allah.

—Flashback—

Sabtu, 24 Desember 2016

Kontrol kehamilan sama dr. Laksmi di RSB. Duren Tiga, usia kandungan 33 minggu. Alhamdulillah keadaan janin bagus dan aku juga sehat.

Rabu, 28 Desember 2016

Mumpung lagi cuti, akhirnya menyempatkan diri kontrol ke bidan Erie Marjoko di Citayam. Pergi bertiga sama suami dan kakak Kiya, naik commuter line dari stasiun Kalibata dan turun di stasiun Citayam.

Banyak dapat pencerahan dari bude Erie, yang selama ini aku agak takut2 kalau jalan banyak karena sejak perut udah besar banget, terasaaaa kenceng dan beratnya, cuma takut brojol belum waktunya. Ternyata eh ternyata, itu biasa selama bukan kontraksi yang rutin, perut kencang dan pergerakan bayi aktif, nggak masalah. Beberapa nasihat bude erie:

  1. Aku diharuskan berjalan cepat dan aktif bergerak, karena untuk membuka jalan lahir. Olahraga wajib hukumnya untuk bumil, setiap hari.
  2. Karena kelahiran anak pertama aku mengalami perdarahan di perineum (di jahitan episnya), aku diajarkan pijat perineum.
  3. Untuk meningkatkan Hb aku yang memang rendah, aku dianjurkan minum sari dari buah bit dan buah kurma setiap hari.
  4. Latihan teknik pernapasan perut sesering mungkin, kapan pun dan dimanapun.
  5. Afirmasi positif dan ajak bayi di perut ngobrol

 

Harusnya kontrol lagi ke dr. Laksmi 2 minggu kemudian (tanggal 14 Jan 2017), tapi saat itu kondisiku lagi nggak enak jadi batal kontrol.

Senin 16 Januari 2017

Aku masuk kerja seperti biasa dan karena udah merasa gampang lelah, aku memutuskan mau ambil cuti mulai minggu depan. Jadi seminggu di kantor persiapan mau cuti, termasuk bikin surat cuti. Ternyata untuk ajukan cuti melahirkan harus ada surat pengantar dr dokternya. Karena RS tempatku kontrol jauh dr kantor, dan pekerjaan yg harus kuselesaikan sebelum cuti banyak, jadi nggak sempat mampir ke RS. Sampai hari Jumat tanggal 20 Jan 2016 tiba, sedangkan aku mau cuti hari Senin besok!

Jumat, 20 Januari 2016
Di usia kandungan yang sudah masuk 37 minggu, kondisiku makin gampang lelah karena perut yg membesar, dan kaki gampang bengkak. Sehabis makan siang, aku memutuskan pergi ke RS.Tambak yang dekat dengan kantor, untuk kontrol sekalian minta surat pengantar cuti melahirkan 3 bulan. Datang ke RS sendirian, tiba di sana ditangani dr.Dwi Rahmawaty. Yang bikin kaget, hasil tensiku tinggi 140/100, masyaAllah. Aku mulai curiga dengan keadaanku dimana kaki bengkak dan tensi tinggi, dan sudah 2 hari kepala dan leherku sakit dan kaku, pandangan mata agak kabur dan pernah 1 kali kunang-kunang.

Pas masuk ke ruang dokter, diperiksa bahwa kondisi janin bagus. BB normal dan air ketuban banyak. Sampai dokter sadar tensiku yg tinggi. Diminta cek ulang lagi, dan hasilnya 150/100 dengan 2 kali cek. Dokter Dwi saran untuk cek urinku.

Sambil menunggu hasil urin, aku sholat ashar di mushola, berharap semoga aku sehat-sehat saja. Takdir Allah..hasil urinku terdapat keobocoran protein +3 (paling tinggi). Kesimpulan: aku pre eklampsia.

Saran dokter: aku harus segera rawat inap untuk induksi atau langsung operasi agar melahirkan secepatnya. Karena usia kandunganku sudah cukup bulan (37 minggu).

Aku: shock! dan semakin stres!

Dokter Dwi akhirnya kasih catatan untuk dibawa ke dokter Laksmi dan aku diberi obat penurun tensi. Sehingga aku masih bisa konsul ke dokter biasanya. Aku balik ke kantor dalam keadaan makin pusing dan stres..astaghfirullah…

Aku langsung whatsapp suami. Tiba di rumah, cerita ke mama.Aku juga wa teman-teman yang pernah mengalami pre eklampsia atau tensi tinggi menjelang melahirkan. Aku mau tau bagaimana pengalaman mereka dan tindakan apa yang diberikan dari dokternya. Kepalaku tetap pusing dan tengkuk pundak sakit. Pas suami pulang, kita diskusi tapi suami tetap menyerahkan ke aku. Menurut informasi dari internet, memang saran dokter-dokter bahwa dengan pre-eklampsia harus dilahirkan segera apabila sudah cukup bulan. Aku semakin bingung dan semakin pusing, ini semua di luar perkiraanku.

Aku tetap ingin melahirkan dengan proses normal tapi yang alami, lembut dan minim trauma. Selama kehamilan kedua ini, aku sudah bergerak lebih aktif, yoga sendiri di rumah pakai youtube, beli gymball, baca artikelnya bidankita tentang GB, afirmasi positif, belajar pernapasan tiap saat, baca buku dan dengar CD melahirkan tanpa rasa sakit. Pokoknya lebih banyak yang aku pelajari dan aku praktikan di kehamilan kedua dibanding kehamilan pertama. Tapi kalau keadaannya pre-eklampsia begini, gimana donk. Aku nangis malam itu, antara masih nggak percaya dan bingung ambil keputusan.

Sabtu, 21 Januari 2017

Aku beserta keluarga (suami, kiya, mama, tante & om yang lagi nginap di rumah), pergi kontrol ke RSB Duren Tiga. Karena perkiraan aku akan segera melahirkan, maka aku ditemani banyak orang :). Pertama kontrol jam 11 aku ke dr. Fachrudin untuk minta opini, ternyata keputusan dia adalah langsung operasi cesar. Sambil menunggu dokter, aku sempat ikut kelas senam hamil di RS itu, dan ngobrol sama bidan Andry yang ujung-ujungnya dia bisa bantu hypno saat proses melahirkan berlangsung.

Setelah dari dr.Fachrudin, aku daftar lagi ke dr. Laksmi. Kami pergi makan siang dulu sambil menunggu jadwal dr.Laksmi. Di ruang dr.Laksmi, aku langsung cerita perihal pre eklampsia, aku di USG yang alhamdulillah kondisi janin sangat bagus. Dr. Laksmi menjelaskan tentang PE ini, dan aku masih boleh coba induksi dulu dengan catatan hanya 24 jam dan dosis tidak tinggi. Ya sudah aku setuju, dan malam ini aku mulai masuk RS untuk rawat inap.

Jam 9 malam, aku kembali ke RSB. Duren Tiga untuk mulai rawat inap. Momen saat aku mau pergi ke RS, melihat Kiya yang awalnya mengerti kalau Mama-Papanya mau nginap di RS untuk ngeluarin adek, pas kita pamit mau pergi dia nangis sediiiih banget. Mamanya langsung ikutan mewek dan peluk cium Kiya.

Di RS, aku langsung menuju kamar rawat. Suster pasang infus di tangan kanan dan mesin tensi meter di tanngan kiri. Induksi langsung dimasukan jam 10 malam via infus. Nggak lama kontraksi mulai datang, tapi aku sendiri belum terasa banget. Karena kepala masih sakit, aku usahakan untuk tidur tapi susah. Lucunya, kalau aku pejamkan mata dan bayangin tingkah lucunya Kiya, sakit kepalaku hilang. Masya Allah…

Setelah 12 jam diinduksi, aku di cek pembukaan untuk pertama kalinya. Sebetulnya aku agak2 trauma dengan VT, tapi saat VT kali ini aku ingat moto di bidankita “Just Breathe”, aku pun tarik napas-rileks-senyum-buang napas..alhamdulillah beberapa kali VT nggak terasa menegangkan dan sakit. Hilang sudah rasa takutku pada VT :). Bahkan bidan pertama ini sampai obok2..hehe. Hasilnya belum ada pembukaan.

Selama masa induksi ini, aku nggak bisa turun dari tempat tidur. Karena tangan keduanya terikat, kanan infus kiri tensi. Yang tensi ini kalau lagi mompa, sakitnyaaa sampai tangan kiriku bengkak. Sama sekali nggak nyaman rasanya. Mau melakukan aksi2 yang memperlancarkan pembukaan sangat terbatas. Jadi apa yang kulakukan di tempat tidur? Jongkok dan goyang2in pinggul. Tapi itu juga nggak bisa lama2 karena harus menahan sakit kepala dan leher.

Sekitar 2 jam kemudian, cek VT sama dr.Laksmi, kalau VT sama budok rasanya lebih lembut lho..haha. Udah bukaan 2 tapi kepala masih ngambang. Sekitar jam 2 siang, cek pembukaan lagi, sudah maju 3. Saat itu, aku jadi semakin yakin bisa melahirkan normal dan ajak bayi di perut ” dek yuk kita lahiran maghrib ini”. Selama induksi ini, aku juga di cek CTG dan detak jantung bayi.

Lewat maghrib, dicek pembukaan masih 3 dan kepala masih ngambang. Jam 8 malam, dijelaskan hasil CTG bahwa scan terakhir kalau detak jantung bayi mulai lemah, nggak sekuat sebelumnya, sedangkan jam 10 malam induksi akan dilepas karena sudah 24 jam. Alasan dr. Laksmi cuma kasih induksi 24 jam karena tensi tinggi aku ini. Untuk mencegah eklampsia, aku disuntikan obat anti-kejang yang rasanya panaaas di dalam tubuh. The time is over, maka kita pun harus segera membuat keputusan.

Jam 20:30 kami pun memutuskan untuk siap operasi caesar. Langsung perawat menghubungi dr. Laksmi dan dokter anastesi. Jam 21:30, aku masuk ruang persiapan, ganti baju dan cukuran, menunggu sampai dokter tiba. Perasaanku yang masih belum terima, belum percaya sepenuhnya akan dioperasi, hanya mampu berdoa dan Just Breathe untuk merilekskan pikiran. Bismillah…

Jam 22:00 tepat, masuk ruang operasi. Ternyata ada lagu-lagu di ruang operasi, supaya bikin tenang pasien dan tenaga medis kali yaaa. Setelah dibaringkan di meja operasi, aku disapa dr. Laksmi yang sudah berpakaian lengkap operasi, kemudian disapa dokter anastesi. Dokter anastesi ngajak ngobrol supaya rileks, kemudian tubuhku dibantu suster dimiringkan dan dilekungkan ke depan. Aku pun disuntik bius di spinal punggung belakang. Alhamdulillah sekali suntik saja langsung masuk obat biusnya. Daaan dengan gerakan sangat cepat tapi hati-hati, tubuhku langsung direbahkan kembali, dipasang kain penghalang, kakiku dielus-elus tanda aku sudah mulai kebal dan kesemutan efek bius. Rasanya itu kaya saat kita tidur tapi ketindihan “sesuatu”, mau gerakin kaki tapi ketahan nggak bisa bergerak. Hee.. Saat perut terasa dipegang-pegang, aku terus berusaha merilekskan pikiran dengan tarik-buang napas sembari zikir, tujuanku adalah bahwa aku tidak mau merasakan saat perut disayat pisau, rasa diobok-obok, karena takut stres.

Alhamdulillah tepat jam 22.23 WIB (laporan dari suster yang bicara di samping), lahirlah bayi perempuan mungil. Aku melihat saat dia diangkat dari perutku, sambil menangis merdu. Alhamdulillah… aku pun terasa rileks lagi dan memejamkan mata, lalu melek lagi saat bayi mungil ini mau disusukan ke payudara kananku, Masya Allah…cantiknya..aku pun memegangnya, lembuuut sekali kulitnya :)). *note: ini bukan IMD seperti yang kuminta yaa..

Sebentar aja bayi disusukan, lalu diambil lagi sama suster. Aku memejamkan mata kembali sambil terus inhale-exhale napas, dan mulai terasa perutku kaya “disetrika” bolak-balik dari kanan ke kiri, ini mungkin lagi proses jahit kali yaaa.. Tidak terasa, operasi sudah selesai, aku pun dibawa ke ruang observasi dan ditinggal sendiri. Tidak lama, suamiku masuk lalu gantian mama yang masuk ke ruang observasi. Pengalaman beberapa orang setelah operasi cesar menggigil, alhamdulillah aku nggak mengalaminya. Justru kepalaku yang tadi sakit malah terasa rileks banget, lega, plong (perut masih aman belum terasa sakit karena efek bius). Aku pun tertidur pulas di ruang observasi, sesekali bangun dan tengok tensi monitor di samping kanan, walah ternyata tensiku masih tinggi, malah lebih tinggi sampai sekitar 160-180, yang bawahnya 100 lebih juga. Ajaibnya, aku tetap rileks banget karena berpikiran, wajarlah abis operasi tensi tinggi. dan kemudian tidur lagi sampai jam 5 pagi ada suster yang masuk.

Alhamdulillah…terima kasih Allah Maha Baik, aku dan bayiku selamat dan sehat, ini takdir-Mu yang harus aku terima dengan pasrah sepasrahnya. Insya Allah usaha dan pembelajaranku nggak ada yang sia-sia..Aamiin.

Seorang ibu tetaplah ibu, mau dia melahirkan dengan operasi SC atau via vagina, anaknya dikasih sufor atau ASI, pakai pospak atau popok kain, makanan instan atau homemade, daaan lain-lain. Setiap ibu ingin yang terbaik untuk anaknya, ingin anaknya sehat dan pintar, ingin anaknya jadi anak soleh/solehah. Semoga rasa sakit dan lelahnya ibu terbayarkan nanti, kapan nantinya? hanya Allah yang tau. Selamat berlelah para mommies 🙂

Apakah proses melahirkanku kali ini gentlebirth? Menurutku iya, aku bisa sangat tenang saat operasi, rileks, dan minim trauma. Mudah2an untuk bayiku juga terasa efek gentlebirth buat dia 🙂

 

 

 

 

image

image

Visit to Ternate

Ini perjalanan pertama aku ke WIT (Waktu Indonesia Timur) yang beda waktu 2 jam dengan Jakarta (WIB). Kunjunganku ke Ternate, Provinsi Maluku Utara dari tanggal 15-17 November 2016, dengan usia kandungan 7 bulan. Berangkat dari Bandar Soetta pukul 01.40 dini hari, haduuh mata sepet banget nahan ngantuk di bandara yang super sepiii… Iya, soalnya bandara terminal 3 ultimate yang masih baru banget. Aku udah berangkat dari rumah jam 11 malam dan ditemani drama Kiya menangis..huhuuu maaf ya Nak 😦

Mendarat dengan mulus (dan super ngantuk) di Bandara Sultan Babullah Ternate jam 05.15 WIB alias 07.15 WIT, dan aku merasa jetlag. hahaha…

Dijemput orang Ternate, diajak sarapan pagi di tempat enak, dimana pilihan makannya ada lontong sayur dan nasi kuning. Alhamdulillah enaaak…

Selesai sarapan, langsung cuss ke hotel Archie dan tiduuur…hahaha.

Jalan-jalan baru dimulai hari ke-2 tanggal 16 November 2016, pertama kita kerja dulu yess..selesai kerja baru deh jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Ternate:

  1. Benteng Tolukko
  2. image

    image

    Benteng ini terletak di tengah2 kota, tidak terlalu besar tapi sangat strategis di jamannya. Latar belakang foto aku itu adalah Pulau Tidore masih termasuk Kep. Maluku Utara.

  3. Batu Angus
  4. image

    image

    Kumpulan batu2 hitam kaya hangus. Iya emang beneran batu yang hangus, karena batu ini muntahan gunung Gamalama saat sedang aktif. Astaghfirullah..nggak kebayang kalau batu2 besar ini menimpa manusia..

  5. Pantai Sulamadaha
  6. image

    image

    image

    Yeaaay..ke pantai Sulamadaha. Tapi kok pantainya nggak seindah di foto2 sosmed yaaah..karena aku nggak jalan ke tempat yang indah itu. Kenapa? Karena cuma bisa jalan kaki (atau naik motor) yang jaraknya lumayan ke tempat keren itu. Maklum aku bumil yang lelaaah..haha.

    Jadi yaaah cukup memandang pantai terdekat, sambil menikmati keripik pisang cocol sambal dan air kelapa ditemani angin sepoi pantai. Alhamdulillah..nikmatnyaa (buat tidur) ^^

  7. Danau Tolire
  8. image

    image

    Di belakang danau terlihat gunung Gamalama. Danau ini punya legenda buaya putihnya dan daya gravitasinya. Jadi kalau kita lempar batu ke arah danau, nggak pernah sampai ke danaunya tapi berbelok ke hutan2 di bawahnya. Entahlah…hehe

Fakta bahwa Ternate ini merupakan satu pulau yang tengahnya puncak gunung Gamalama yang aktif, jadi sekeliling pantai pulau Ternate yaa kaki gunung Gamalama. Syukur alhamdulillah, selama di sana nggak ada kejadian berbahaya. Semoga aman selalu dan penduduknya siap siaga jika terjadi bencana ;).

 

Plesiran: Makassar dan Mamuju

Yeah, as usual this is a duty’s traveling. Haha. Tapi setidaknya sempat merasakan menginap di hotelnya, makanan khasnya, jalanannya, dan pemandangannya. Meski tujuannya cuma kantor daerah dan hotel. Hehe..

First Destination: Makassar
8 Juni pagi-pagi buta gw udah jalan menuju bandara SHIA, makan sahur di jalan dibekalin mama. Penerbangan paling pagi menuju Bandara Sultan Hassanudin Makassar di Maros. Tepat jam 9 pagi waktu Indonesia tengah, tiba di Makassar. Langsung menuju kantor daerah di kota Makassar. Daaaan..sampai jam 11 malam nongkrong di kantor daerah ini aja, dengan bekal buka puasa makanan padang (lah?) Hahaha…

Tiba di hotel Aryaduta jam 12 kurang waktu setempat, alhamdulillah nempel sama kasur juga. Tengah malam, sama teman kantor pesan Coto Makasar via go-food (thanks masih ada go-food tengah malam di Makasar), dan akhirnya menikmati makanan khas Makasar juga.

Bangun pagi-pagi, dan nggak sahur karena baru tidur jam setengah 2 pagi setelah makan coto makasar pake ketupat. Sehabis mandi dan packing (lagi), kita berdua jalan-jalan di depan hotel yang langsung berhadapan dengan pantai fenomenal Makasar, Pantai Losari. Panas terik menerjang kita hajar deh demi dapat foto (eh?). Kalau dulu pertama kali ke Makasar tahun 2011, hanya ada tulisan besar Pantai Losari. Tetapi kini banyak tulisan besar lainnya di sekitar pantai, seperti tulisan Makasar, Bugis, dll. Jalan-jalan di pinggir pantai yang terik sekitar 500 meter lebih dan foto-foto tiap ada tulisan besar atau patung di sana..Hahaha.
image

image

image

image

Pantai Losari kini, Juni 2016

Jam 9 lewat, kita kembali ke hotel, ambil tas di concierge dan langsung cabut menuju bandara lagi. Sebelum ke bandara, mampir ke Jalan Somba Opu, tempat jajaran toko oleh-oleh di Makasar. Kita mampir ke satu toko saja (karena waktu mepet), ke Toko Ujung. Tiba di Toko Ujung, bau kopi menguar, haruuuum banget. Masya Allah kalau nggak inget puasa (dan punya penyakit maag), rasanya pengen pesan atau beli kopi di sana. Alhasil gw hanya membeli pesanan orang rumah, minya tawon tutup putih yang harganya semakin Wow, dan sebungkus keripik bawang pedas untuk camilan nanti.
image

image

image

image

Toko Ujung, toko oleh-oleh di Jalan Somba Opu-Makassar

 

Second Destinantion: Mamuju – Sulawesi Barat

Jam 11 siang, kami terbang lagi menuju Mamuju – Sulawesi Barat dengan pesawat Wings baling-baling selama setengah jam lebih. Tiba di Bandara Tampa Padang Mamuju, kami sudah dijemput dan langsung melaju ke pusat kota Mamuju yang ditempuh 45 menit dari bandara dengan jalan berliku aduhai, mulai pusing kepala gw (mana lagi hamil muda pula). Alhamdulillah tengah hari kita sudah tiba di Hotel D Maleo Mamuju, satu-satunya hotel besar di kota ini. Istirahat sebentar (dan ketiduran) sampai waktu berbuka hampir tiba. Kami pun dibawa makan berbuka puasa di warung ikan bakar, khas Mamuju sini makanan adalah ikan bakar. Alhamdulillah bumbunya enak dan ikannya segar. Selesai makan, kami kembali ke hotel lagi untuk istirahat.
image

image

Jadwal esok hari: Kerja seharian di kantor daerahnya. Nggak usah diceritain yaa..haha.

Diajak makan berbuka (yang telat) di warung ikan bakar lagi, kali ini gw bisa lebih menikmati makannya, karena lebih enak bumbu ikannya. Jam 10-an malam kami sudah tiba di hotel kembali.
image

image

Esok harinya, kami kembali ke Jakarta, dari Bandara Tampa Padang Mamuju dengan pesawat Wings Air baling-baling (entah jenis pesawatnya apa), transit di Bandara Sulatan Hasanudin Makasar sekitar 1 jam kurang. FYI, Bandara Sultan Hasanudin yang dulu gw kagumi dengan besar dan luasnya, saat gw transit di sana hari itu, bandara sedang di renovasi yang menurut gw membuat bandara jadi terlihat sempit dan nggak keren lagi. Hehe. Nggak tau deh kalau renovasinya udah selesai nanti.

Ternyata gw nggak transit lama-lama di bandara Makasar, karena pesawat Batik Air kita udah siap mengangkut penumpang sebelum jadwal boarding. Wow. Ini pertama kali gw naik Batik Air, ternyata jadwal boarding lebih cepat dari yang tertulis di boarding pass, interior pesawat lebih lega dari “saudaranya”, jarang antar kursi lebih nyaman, ada layar TV juga di setiap bangku, waaah..tapi kita harus sedia earphone untuk menikmati audionya (pakai earphone hp juga bisa) atau membeli 25 ribu di atas pesawat. Dua jam perjalanan, kami tiba di bandara SHIA Jakarta.