Hello (nice) baby blues

Masa postpartum mari bertemu dengan baby blues syndrome. Hello again ^^. Kok ada kata “nice”nya yah? Karena BBS aku saat ini lebih banyak perenungan sampai akhirnya rasa ikhlas yang bener2 terasa blaasss…

BBS aku lebih banyak karena “belum terima” sepenuhnya kenapa harus melahirkan belum waktunya (belum keinginan bayinya), tensi tinggi menjelang melahirkan, bukan persalinan normal yang lembut, minim trauma, lancar jaya, bahkan bayi harus terpaksa diinduksi untuk dikeluarkan, dan usaha mau melahirkan indah dengan penuh kesadaran rasanya sia-sia.

Aku juga merasa bersalah ke anak kedua, karena dia dipaksa lahir sebelum waktunya (kontraksi sendiri), sejak usia kandungan 5 bulan aku tiap hari minum kopi hitam! Iya, aku jadi pecinta kopi hitam banget banget (tapi nggak tau deh ini pengaruh bahaya ke janin atau nggak), trus kurang konsumsi makanan/minuman bergizi, dan sering stress (stres di rumah dan di kantor juga). Rasanya ingin mengulang kehamilan anak kedua ini..hiks.

Dan rasa bersalah ke anak pertama, karena sejak kehadiran adiknya, Kiya jadi caper banget. Gampang nangis, gampang marah, gampang teriak2, pecicilan banget..bedaa banget sebelum ada adiknya. Alhasil, Kiya jadi disodorin iPad mulu..duh, tak tega aku. Perlahan mulai cari cara untuk aku sabar dan nurutin apa mau dia dulu, pelan-pelan sambil selip2in belajar, bercanda dan bermain sama Kiya, dan berusaha nahan bentak2 ke dia.

Aku pun merenung, menangis, cerita ke suami dan cerita ke mommies kece di birthclub anak pertama, sambil terus berpikiran positif, tidak lupa inhale-exhale napas, dan afirmasi positif bahwa aku sehat dan bahagia saat ini, daaan senyuuum :)). Karena pesan dokter dengan tensiku yang masih tinggi ini, aku nggak boleh capek dan nggak boleh stress. Alhamdulillah aku dapat melalui masa BBS ini hanya seminggu saja, itupun nggak parah-parah banget seperti dulu anak pertama.

So, gimana caranya bebas cepat dari BBS dan nggak dramatisir banget? Kalau yang kulakukan kemarin:

  1. Banyak2 ucap syukur ke Allah dan istighfar
  2. Cerita ke suami atau orang terdekat
  3. Tumpahin emosi yang dirasakan, misal menangis dan berpelukan
  4. Rileksin tubuh dan pikiran (inhale-exhale napas sering2 sambil senyum)
  5. Afirmasi positif ke diri sendiri
  6. Perkaya diri dengan pengetahuan

Mari mengulang rutinitas newborn dan nikmatilah: begadang, ganti popok, menyusui, gendong timang-timang, mandiin, jemur matahari, pumping asi, dan surfing di online shop *uuppss.. 😉

 

 

 

Kelahiran Kamila ke Dunia

Alhamdulillahirrobil ‘alaamiin..
Telah lahir putri kedua kami, Kamila Alesha Nugroho, pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2017 pukul 22.23 WIB. Si kecil lahir di usia kandungan 37 minggu dengan BB 2800 gram dan PB 47 cm.

image

Dan cerita kelahiran anak keduaku, ternyata tidak semudah yang aku harapkan dan jauh dari apa yang aku usahakan selama kehamilannya. Semua kembali kepada takdir Allah SWT, pasrah sepasrahnya. Mungkin dalam ceritaku ini masih nyelip rasa “tidak terima”, tapi aku berusaha ikhlas menerima apa yg telah Allah gariskan. InsyaAllah..mohon ampunan dan petunjukMu Yaa Allah.

—Flashback—

Sabtu, 24 Desember 2016

Kontrol kehamilan sama dr. Laksmi di RSB. Duren Tiga, usia kandungan 33 minggu. Alhamdulillah keadaan janin bagus dan aku juga sehat.

Rabu, 28 Desember 2016

Mumpung lagi cuti, akhirnya menyempatkan diri kontrol ke bidan Erie Marjoko di Citayam. Pergi bertiga sama suami dan kakak Kiya, naik commuter line dari stasiun Kalibata dan turun di stasiun Citayam.

Banyak dapat pencerahan dari bude Erie, yang selama ini aku agak takut2 kalau jalan banyak karena sejak perut udah besar banget, terasaaaa kenceng dan beratnya, cuma takut brojol belum waktunya. Ternyata eh ternyata, itu biasa selama bukan kontraksi yang rutin, perut kencang dan pergerakan bayi aktif, nggak masalah. Beberapa nasihat bude erie:

  1. Aku diharuskan berjalan cepat dan aktif bergerak, karena untuk membuka jalan lahir. Olahraga wajib hukumnya untuk bumil, setiap hari.
  2. Karena kelahiran anak pertama aku mengalami perdarahan di perineum (di jahitan episnya), aku diajarkan pijat perineum.
  3. Untuk meningkatkan Hb aku yang memang rendah, aku dianjurkan minum sari dari buah bit dan buah kurma setiap hari.
  4. Latihan teknik pernapasan perut sesering mungkin, kapan pun dan dimanapun.
  5. Afirmasi positif dan ajak bayi di perut ngobrol

 

Harusnya kontrol lagi ke dr. Laksmi 2 minggu kemudian (tanggal 14 Jan 2017), tapi saat itu kondisiku lagi nggak enak jadi batal kontrol.

Senin 16 Januari 2017

Aku masuk kerja seperti biasa dan karena udah merasa gampang lelah, aku memutuskan mau ambil cuti mulai minggu depan. Jadi seminggu di kantor persiapan mau cuti, termasuk bikin surat cuti. Ternyata untuk ajukan cuti melahirkan harus ada surat pengantar dr dokternya. Karena RS tempatku kontrol jauh dr kantor, dan pekerjaan yg harus kuselesaikan sebelum cuti banyak, jadi nggak sempat mampir ke RS. Sampai hari Jumat tanggal 20 Jan 2016 tiba, sedangkan aku mau cuti hari Senin besok!

Jumat, 20 Januari 2016
Di usia kandungan yang sudah masuk 37 minggu, kondisiku makin gampang lelah karena perut yg membesar, dan kaki gampang bengkak. Sehabis makan siang, aku memutuskan pergi ke RS.Tambak yang dekat dengan kantor, untuk kontrol sekalian minta surat pengantar cuti melahirkan 3 bulan. Datang ke RS sendirian, tiba di sana ditangani dr.Dwi Rahmawaty. Yang bikin kaget, hasil tensiku tinggi 140/100, masyaAllah. Aku mulai curiga dengan keadaanku dimana kaki bengkak dan tensi tinggi, dan sudah 2 hari kepala dan leherku sakit dan kaku, pandangan mata agak kabur dan pernah 1 kali kunang-kunang.

Pas masuk ke ruang dokter, diperiksa bahwa kondisi janin bagus. BB normal dan air ketuban banyak. Sampai dokter sadar tensiku yg tinggi. Diminta cek ulang lagi, dan hasilnya 150/100 dengan 2 kali cek. Dokter Dwi saran untuk cek urinku.

Sambil menunggu hasil urin, aku sholat ashar di mushola, berharap semoga aku sehat-sehat saja. Takdir Allah..hasil urinku terdapat keobocoran protein +3 (paling tinggi). Kesimpulan: aku pre eklampsia.

Saran dokter: aku harus segera rawat inap untuk induksi atau langsung operasi agar melahirkan secepatnya. Karena usia kandunganku sudah cukup bulan (37 minggu).

Aku: shock! dan semakin stres!

Dokter Dwi akhirnya kasih catatan untuk dibawa ke dokter Laksmi dan aku diberi obat penurun tensi. Sehingga aku masih bisa konsul ke dokter biasanya. Aku balik ke kantor dalam keadaan makin pusing dan stres..astaghfirullah…

Aku langsung whatsapp suami. Tiba di rumah, cerita ke mama.Aku juga wa teman-teman yang pernah mengalami pre eklampsia atau tensi tinggi menjelang melahirkan. Aku mau tau bagaimana pengalaman mereka dan tindakan apa yang diberikan dari dokternya. Kepalaku tetap pusing dan tengkuk pundak sakit. Pas suami pulang, kita diskusi tapi suami tetap menyerahkan ke aku. Menurut informasi dari internet, memang saran dokter-dokter bahwa dengan pre-eklampsia harus dilahirkan segera apabila sudah cukup bulan. Aku semakin bingung dan semakin pusing, ini semua di luar perkiraanku.

Aku tetap ingin melahirkan dengan proses normal tapi yang alami, lembut dan minim trauma. Selama kehamilan kedua ini, aku sudah bergerak lebih aktif, yoga sendiri di rumah pakai youtube, beli gymball, baca artikelnya bidankita tentang GB, afirmasi positif, belajar pernapasan tiap saat, baca buku dan dengar CD melahirkan tanpa rasa sakit. Pokoknya lebih banyak yang aku pelajari dan aku praktikan di kehamilan kedua dibanding kehamilan pertama. Tapi kalau keadaannya pre-eklampsia begini, gimana donk. Aku nangis malam itu, antara masih nggak percaya dan bingung ambil keputusan.

Sabtu, 21 Januari 2017

Aku beserta keluarga (suami, kiya, mama, tante & om yang lagi nginap di rumah), pergi kontrol ke RSB Duren Tiga. Karena perkiraan aku akan segera melahirkan, maka aku ditemani banyak orang :). Pertama kontrol jam 11 aku ke dr. Fachrudin untuk minta opini, ternyata keputusan dia adalah langsung operasi cesar. Sambil menunggu dokter, aku sempat ikut kelas senam hamil di RS itu, dan ngobrol sama bidan Andry yang ujung-ujungnya dia bisa bantu hypno saat proses melahirkan berlangsung.

Setelah dari dr.Fachrudin, aku daftar lagi ke dr. Laksmi. Kami pergi makan siang dulu sambil menunggu jadwal dr.Laksmi. Di ruang dr.Laksmi, aku langsung cerita perihal pre eklampsia, aku di USG yang alhamdulillah kondisi janin sangat bagus. Dr. Laksmi menjelaskan tentang PE ini, dan aku masih boleh coba induksi dulu dengan catatan hanya 24 jam dan dosis tidak tinggi. Ya sudah aku setuju, dan malam ini aku mulai masuk RS untuk rawat inap.

Jam 9 malam, aku kembali ke RSB. Duren Tiga untuk mulai rawat inap. Momen saat aku mau pergi ke RS, melihat Kiya yang awalnya mengerti kalau Mama-Papanya mau nginap di RS untuk ngeluarin adek, pas kita pamit mau pergi dia nangis sediiiih banget. Mamanya langsung ikutan mewek dan peluk cium Kiya.

Di RS, aku langsung menuju kamar rawat. Suster pasang infus di tangan kanan dan mesin tensi meter di tanngan kiri. Induksi langsung dimasukan jam 10 malam via infus. Nggak lama kontraksi mulai datang, tapi aku sendiri belum terasa banget. Karena kepala masih sakit, aku usahakan untuk tidur tapi susah. Lucunya, kalau aku pejamkan mata dan bayangin tingkah lucunya Kiya, sakit kepalaku hilang. Masya Allah…

Setelah 12 jam diinduksi, aku di cek pembukaan untuk pertama kalinya. Sebetulnya aku agak2 trauma dengan VT, tapi saat VT kali ini aku ingat moto di bidankita “Just Breathe”, aku pun tarik napas-rileks-senyum-buang napas..alhamdulillah beberapa kali VT nggak terasa menegangkan dan sakit. Hilang sudah rasa takutku pada VT :). Bahkan bidan pertama ini sampai obok2..hehe. Hasilnya belum ada pembukaan.

Selama masa induksi ini, aku nggak bisa turun dari tempat tidur. Karena tangan keduanya terikat, kanan infus kiri tensi. Yang tensi ini kalau lagi mompa, sakitnyaaa sampai tangan kiriku bengkak. Sama sekali nggak nyaman rasanya. Mau melakukan aksi2 yang memperlancarkan pembukaan sangat terbatas. Jadi apa yang kulakukan di tempat tidur? Jongkok dan goyang2in pinggul. Tapi itu juga nggak bisa lama2 karena harus menahan sakit kepala dan leher.

Sekitar 2 jam kemudian, cek VT sama dr.Laksmi, kalau VT sama budok rasanya lebih lembut lho..haha. Udah bukaan 2 tapi kepala masih ngambang. Sekitar jam 2 siang, cek pembukaan lagi, sudah maju 3. Saat itu, aku jadi semakin yakin bisa melahirkan normal dan ajak bayi di perut ” dek yuk kita lahiran maghrib ini”. Selama induksi ini, aku juga di cek CTG dan detak jantung bayi.

Lewat maghrib, dicek pembukaan masih 3 dan kepala masih ngambang. Jam 8 malam, dijelaskan hasil CTG bahwa scan terakhir kalau detak jantung bayi mulai lemah, nggak sekuat sebelumnya, sedangkan jam 10 malam induksi akan dilepas karena sudah 24 jam. Alasan dr. Laksmi cuma kasih induksi 24 jam karena tensi tinggi aku ini. Untuk mencegah eklampsia, aku disuntikan obat anti-kejang yang rasanya panaaas di dalam tubuh. The time is over, maka kita pun harus segera membuat keputusan.

Jam 20:30 kami pun memutuskan untuk siap operasi caesar. Langsung perawat menghubungi dr. Laksmi dan dokter anastesi. Jam 21:30, aku masuk ruang persiapan, ganti baju dan cukuran, menunggu sampai dokter tiba. Perasaanku yang masih belum terima, belum percaya sepenuhnya akan dioperasi, hanya mampu berdoa dan Just Breathe untuk merilekskan pikiran. Bismillah…

Jam 22:00 tepat, masuk ruang operasi. Ternyata ada lagu-lagu di ruang operasi, supaya bikin tenang pasien dan tenaga medis kali yaaa. Setelah dibaringkan di meja operasi, aku disapa dr. Laksmi yang sudah berpakaian lengkap operasi, kemudian disapa dokter anastesi. Dokter anastesi ngajak ngobrol supaya rileks, kemudian tubuhku dibantu suster dimiringkan dan dilekungkan ke depan. Aku pun disuntik bius di spinal punggung belakang. Alhamdulillah sekali suntik saja langsung masuk obat biusnya. Daaan dengan gerakan sangat cepat tapi hati-hati, tubuhku langsung direbahkan kembali, dipasang kain penghalang, kakiku dielus-elus tanda aku sudah mulai kebal dan kesemutan efek bius. Rasanya itu kaya saat kita tidur tapi ketindihan “sesuatu”, mau gerakin kaki tapi ketahan nggak bisa bergerak. Hee.. Saat perut terasa dipegang-pegang, aku terus berusaha merilekskan pikiran dengan tarik-buang napas sembari zikir, tujuanku adalah bahwa aku tidak mau merasakan saat perut disayat pisau, rasa diobok-obok, karena takut stres.

Alhamdulillah tepat jam 22.23 WIB (laporan dari suster yang bicara di samping), lahirlah bayi perempuan mungil. Aku melihat saat dia diangkat dari perutku, sambil menangis merdu. Alhamdulillah… aku pun terasa rileks lagi dan memejamkan mata, lalu melek lagi saat bayi mungil ini mau disusukan ke payudara kananku, Masya Allah…cantiknya..aku pun memegangnya, lembuuut sekali kulitnya :)). *note: ini bukan IMD seperti yang kuminta yaa..

Sebentar aja bayi disusukan, lalu diambil lagi sama suster. Aku memejamkan mata kembali sambil terus inhale-exhale napas, dan mulai terasa perutku kaya “disetrika” bolak-balik dari kanan ke kiri, ini mungkin lagi proses jahit kali yaaa.. Tidak terasa, operasi sudah selesai, aku pun dibawa ke ruang observasi dan ditinggal sendiri. Tidak lama, suamiku masuk lalu gantian mama yang masuk ke ruang observasi. Pengalaman beberapa orang setelah operasi cesar menggigil, alhamdulillah aku nggak mengalaminya. Justru kepalaku yang tadi sakit malah terasa rileks banget, lega, plong (perut masih aman belum terasa sakit karena efek bius). Aku pun tertidur pulas di ruang observasi, sesekali bangun dan tengok tensi monitor di samping kanan, walah ternyata tensiku masih tinggi, malah lebih tinggi sampai sekitar 160-180, yang bawahnya 100 lebih juga. Ajaibnya, aku tetap rileks banget karena berpikiran, wajarlah abis operasi tensi tinggi. dan kemudian tidur lagi sampai jam 5 pagi ada suster yang masuk.

Alhamdulillah…terima kasih Allah Maha Baik, aku dan bayiku selamat dan sehat, ini takdir-Mu yang harus aku terima dengan pasrah sepasrahnya. Insya Allah usaha dan pembelajaranku nggak ada yang sia-sia..Aamiin.

Seorang ibu tetaplah ibu, mau dia melahirkan dengan operasi SC atau via vagina, anaknya dikasih sufor atau ASI, pakai pospak atau popok kain, makanan instan atau homemade, daaan lain-lain. Setiap ibu ingin yang terbaik untuk anaknya, ingin anaknya sehat dan pintar, ingin anaknya jadi anak soleh/solehah. Semoga rasa sakit dan lelahnya ibu terbayarkan nanti, kapan nantinya? hanya Allah yang tau. Selamat berlelah para mommies 🙂

Apakah proses melahirkanku kali ini gentlebirth? Menurutku iya, aku bisa sangat tenang saat operasi, rileks, dan minim trauma. Mudah2an untuk bayiku juga terasa efek gentlebirth buat dia 🙂

 

 

 

 

image

image

Visit to Ternate

Ini perjalanan pertama aku ke WIT (Waktu Indonesia Timur) yang beda waktu 2 jam dengan Jakarta (WIB). Kunjunganku ke Ternate, Provinsi Maluku Utara dari tanggal 15-17 November 2016, dengan usia kandungan 7 bulan. Berangkat dari Bandar Soetta pukul 01.40 dini hari, haduuh mata sepet banget nahan ngantuk di bandara yang super sepiii… Iya, soalnya bandara terminal 3 ultimate yang masih baru banget. Aku udah berangkat dari rumah jam 11 malam dan ditemani drama Kiya menangis..huhuuu maaf ya Nak 😦

Mendarat dengan mulus (dan super ngantuk) di Bandara Sultan Babullah Ternate jam 05.15 WIB alias 07.15 WIT, dan aku merasa jetlag. hahaha…

Dijemput orang Ternate, diajak sarapan pagi di tempat enak, dimana pilihan makannya ada lontong sayur dan nasi kuning. Alhamdulillah enaaak…

Selesai sarapan, langsung cuss ke hotel Archie dan tiduuur…hahaha.

Jalan-jalan baru dimulai hari ke-2 tanggal 16 November 2016, pertama kita kerja dulu yess..selesai kerja baru deh jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Ternate:

  1. Benteng Tolukko
  2. image

    image

    Benteng ini terletak di tengah2 kota, tidak terlalu besar tapi sangat strategis di jamannya. Latar belakang foto aku itu adalah Pulau Tidore masih termasuk Kep. Maluku Utara.

  3. Batu Angus
  4. image

    image

    Kumpulan batu2 hitam kaya hangus. Iya emang beneran batu yang hangus, karena batu ini muntahan gunung Gamalama saat sedang aktif. Astaghfirullah..nggak kebayang kalau batu2 besar ini menimpa manusia..

  5. Pantai Sulamadaha
  6. image

    image

    image

    Yeaaay..ke pantai Sulamadaha. Tapi kok pantainya nggak seindah di foto2 sosmed yaaah..karena aku nggak jalan ke tempat yang indah itu. Kenapa? Karena cuma bisa jalan kaki (atau naik motor) yang jaraknya lumayan ke tempat keren itu. Maklum aku bumil yang lelaaah..haha.

    Jadi yaaah cukup memandang pantai terdekat, sambil menikmati keripik pisang cocol sambal dan air kelapa ditemani angin sepoi pantai. Alhamdulillah..nikmatnyaa (buat tidur) ^^

  7. Danau Tolire
  8. image

    image

    Di belakang danau terlihat gunung Gamalama. Danau ini punya legenda buaya putihnya dan daya gravitasinya. Jadi kalau kita lempar batu ke arah danau, nggak pernah sampai ke danaunya tapi berbelok ke hutan2 di bawahnya. Entahlah…hehe

Fakta bahwa Ternate ini merupakan satu pulau yang tengahnya puncak gunung Gamalama yang aktif, jadi sekeliling pantai pulau Ternate yaa kaki gunung Gamalama. Syukur alhamdulillah, selama di sana nggak ada kejadian berbahaya. Semoga aman selalu dan penduduknya siap siaga jika terjadi bencana ;).

 

Plesiran: Makassar dan Mamuju

Yeah, as usual this is a duty’s traveling. Haha. Tapi setidaknya sempat merasakan menginap di hotelnya, makanan khasnya, jalanannya, dan pemandangannya. Meski tujuannya cuma kantor daerah dan hotel. Hehe..

First Destination: Makassar
8 Juni pagi-pagi buta gw udah jalan menuju bandara SHIA, makan sahur di jalan dibekalin mama. Penerbangan paling pagi menuju Bandara Sultan Hassanudin Makassar di Maros. Tepat jam 9 pagi waktu Indonesia tengah, tiba di Makassar. Langsung menuju kantor daerah di kota Makassar. Daaaan..sampai jam 11 malam nongkrong di kantor daerah ini aja, dengan bekal buka puasa makanan padang (lah?) Hahaha…

Tiba di hotel Aryaduta jam 12 kurang waktu setempat, alhamdulillah nempel sama kasur juga. Tengah malam, sama teman kantor pesan Coto Makasar via go-food (thanks masih ada go-food tengah malam di Makasar), dan akhirnya menikmati makanan khas Makasar juga.

Bangun pagi-pagi, dan nggak sahur karena baru tidur jam setengah 2 pagi setelah makan coto makasar pake ketupat. Sehabis mandi dan packing (lagi), kita berdua jalan-jalan di depan hotel yang langsung berhadapan dengan pantai fenomenal Makasar, Pantai Losari. Panas terik menerjang kita hajar deh demi dapat foto (eh?). Kalau dulu pertama kali ke Makasar tahun 2011, hanya ada tulisan besar Pantai Losari. Tetapi kini banyak tulisan besar lainnya di sekitar pantai, seperti tulisan Makasar, Bugis, dll. Jalan-jalan di pinggir pantai yang terik sekitar 500 meter lebih dan foto-foto tiap ada tulisan besar atau patung di sana..Hahaha.
image

image

image

image

Pantai Losari kini, Juni 2016

Jam 9 lewat, kita kembali ke hotel, ambil tas di concierge dan langsung cabut menuju bandara lagi. Sebelum ke bandara, mampir ke Jalan Somba Opu, tempat jajaran toko oleh-oleh di Makasar. Kita mampir ke satu toko saja (karena waktu mepet), ke Toko Ujung. Tiba di Toko Ujung, bau kopi menguar, haruuuum banget. Masya Allah kalau nggak inget puasa (dan punya penyakit maag), rasanya pengen pesan atau beli kopi di sana. Alhasil gw hanya membeli pesanan orang rumah, minya tawon tutup putih yang harganya semakin Wow, dan sebungkus keripik bawang pedas untuk camilan nanti.
image

image

image

image

Toko Ujung, toko oleh-oleh di Jalan Somba Opu-Makassar

 

Second Destinantion: Mamuju – Sulawesi Barat

Jam 11 siang, kami terbang lagi menuju Mamuju – Sulawesi Barat dengan pesawat Wings baling-baling selama setengah jam lebih. Tiba di Bandara Tampa Padang Mamuju, kami sudah dijemput dan langsung melaju ke pusat kota Mamuju yang ditempuh 45 menit dari bandara dengan jalan berliku aduhai, mulai pusing kepala gw (mana lagi hamil muda pula). Alhamdulillah tengah hari kita sudah tiba di Hotel D Maleo Mamuju, satu-satunya hotel besar di kota ini. Istirahat sebentar (dan ketiduran) sampai waktu berbuka hampir tiba. Kami pun dibawa makan berbuka puasa di warung ikan bakar, khas Mamuju sini makanan adalah ikan bakar. Alhamdulillah bumbunya enak dan ikannya segar. Selesai makan, kami kembali ke hotel lagi untuk istirahat.
image

image

Jadwal esok hari: Kerja seharian di kantor daerahnya. Nggak usah diceritain yaa..haha.

Diajak makan berbuka (yang telat) di warung ikan bakar lagi, kali ini gw bisa lebih menikmati makannya, karena lebih enak bumbu ikannya. Jam 10-an malam kami sudah tiba di hotel kembali.
image

image

Esok harinya, kami kembali ke Jakarta, dari Bandara Tampa Padang Mamuju dengan pesawat Wings Air baling-baling (entah jenis pesawatnya apa), transit di Bandara Sulatan Hasanudin Makasar sekitar 1 jam kurang. FYI, Bandara Sultan Hasanudin yang dulu gw kagumi dengan besar dan luasnya, saat gw transit di sana hari itu, bandara sedang di renovasi yang menurut gw membuat bandara jadi terlihat sempit dan nggak keren lagi. Hehe. Nggak tau deh kalau renovasinya udah selesai nanti.

Ternyata gw nggak transit lama-lama di bandara Makasar, karena pesawat Batik Air kita udah siap mengangkut penumpang sebelum jadwal boarding. Wow. Ini pertama kali gw naik Batik Air, ternyata jadwal boarding lebih cepat dari yang tertulis di boarding pass, interior pesawat lebih lega dari “saudaranya”, jarang antar kursi lebih nyaman, ada layar TV juga di setiap bangku, waaah..tapi kita harus sedia earphone untuk menikmati audionya (pakai earphone hp juga bisa) atau membeli 25 ribu di atas pesawat. Dua jam perjalanan, kami tiba di bandara SHIA Jakarta.

 

Kehadiran Nomor 2 :)

image

Alhamdulillah berkah bulan puasa tahun ini, gw dan keluarga mendapatkan kabar gembira dari Allah. Sore hari di hari pertama puasa, entah ada angin apa membeli testpack. Padahal jadwal siklus mens gw baru telat 1 hari, ini hal biasa bagi gw. Gw cuma merasakan feeling (ooh..wanita sekali..haha), karena “ehem” berhubungan sama suami bulan Mei lalu pas masa kesuburan gw, fyi gw punya aplikasi masa kesuburan-siklus mens di smartphone gw. Terus, 3-4 hari sebelumnya gw merasakan mual (biasanya maag) di jam pagi (setelah sarapan) sampai sore, lepas maghrib hilang deh mual-mual ala maag itu.

Coba-coba beli testpack sepulang kerja dan kemudian..taraaa, hasilnya dua garis samar. Huwaaah..bener-bener nggak sangka :))). ALHAMDULILLAH.

Dimana gw sudah berniat menambah anak sejak tahun lalu (pas Kiya usia 2 tahun) dan ingin punya anak yang lahir bulan Februari juga, alasannya karena di keluarga gw nggak ada yang kelahiran Februari (haha..alasan simpel). Dan kalau ikut perhitungan HPHT (Hari pertama haid terakhir), insyaAllah bayi ini akan lahir di bulan Februari. Masya Allah.

Semoga tumbuh kembang sehat, normal, kuat ya Nak di dalam perut mama, sampai waktu yang dicukupkan dan terlahir dengan lancar dan mulus ke dunia tanpa kekurangan, normal dan sehat. BISMILLAH..mari menjalankan 9 bulan yang indah ini kembali..

Welcome adiknya Adzkiya… :*

Pengaruh dunia maya terhadap gaya hidup

Haiiiaaah..judulnya macam mau penelitian aja. Tapi monggo kalo ada yang terinspirasi :P.

Di jaman setiap orang serba pegang smartphone ini, koneksi internet dimana-mana, dan media-media sosial yang amat menarik, perhatian manusia-manusia di dunia nyata sebagian besar teralihkan ke dunia maya. Hai Maya :P.

Termasuk gw dan blog ini, hahaha.. Awal mula orang selancar di dunia maya tak lain hanya untuk chatting dan email, kemudian game online. Seiring jaman, berkembang akun media sosial dimana orang saling terkoneksi di belahan dunia manapun, apalagi ketemu teman lama juga mantan (eh!). Ketagihan orang-orang akan media sosial lama-lama maknanya bergeser, jadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Yes, betul!!

Ajang “pamer” pun mulai merajalela di dunia media sosial. Mulai dari posting foto, tempat makan, tempat liburan, bahkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan juga semuanya di posting (tentu yang keren dan mahal yang diposting). Kemudian “teman-teman” media sosialnya merasa, Wah si A keren, si B cool baget, si C cantik, si D tajir….dan lain-lain sesuai ekspektasi di pemosting. Efek berikutnya, yang suka perhatiin postingan-postingan “teman media sosialnya” juga terpicu untuk unggah postingan yang keren-keren pula, mulai saling membandingkan, memaksakan diri datang ke tempat ini-itu yang lagi hits di dunia media sosial, punya barang canggih bin mahal, pakain dengan fashion ter-update (cocok nggak cocok dibeli deh pokoknya), daaaan lainnyaaa…

Sempat fenomena ini “mengganggu” gw, tepatnya di saat gw baru memiliki si kecil. Entah kenapa gw sangat terpengaruh komunitas dari media sosial yang selalu memajang foto anaknya dengan barang A, tersu review stroler B, baby bag merk C, dan lainnya. Keinginan gw pun untuk memiliki baju-baju, stroller, high chair, gendongan yang brand bagus dan harganya tentu nggak murah. Dan kalaplah gw saat itu, beli stroler baru, beli high chair baru, beli breastpump baru, beli baju brand mahal, dan mainan mahal (yang nggak penting banget) untuk anak…untung kalapnya gw terbatas di asupan keuangan ;P. (ini standar mahal gw juga nggak tinggi-tinggi juga..haha).

Waktu berlalu, dan gw pun sadar bahwa anak nggak butuh itu semua. Yang dibutuhkan anak adalah pakaian yang bahannya nyaman serta ukuran pas (tidak kekecilan dan kebesaran), produk-produk perawatan juga yang penting bahan aman dan cocok di kulit anak, dan gw juga lebih suka mengajarkan anak jalan kaki sendiri ketimbang bawa stroler kemana-mana, peralatan makan dan botol susu juga cari bahan yang aman untuk makanan dan tahan panas, mainan juga kalau bisa buat atau beli yang murah meriah tapi tidak meninggalkan esensi mendidiknya (warning kepada anak untuk tidak memasukan mainan ke dalam mulutnya). Yap, pada akhirnya gw pun berdamai dengan ambisi. Ambisi ingin membeli barang brand terkenal dan mahal, baik untuk anak dan diri sendiri.

Apa pun masih gw lihat seliweran di media sosial dengan ke-keren-an masing-masing, udah nggak terlalu menyulut ambisi gw ingin ikut memiliki. Alhamdulillah, kini acuan gw kembali ke yang lama, membeli yang baru apabila benar-benar dibutuhkan saja. Kalau cuma “ingin”, masih bisa gw tahan setahannya, oke kecuali makanan enak (eh!). Gw sadar, pendapatan kita sebetulnya cukup banget untuk biaya hidup, tapi tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Alhamdulillah gw dan suami juga menolak memiliki kartu kredit, pakai asuransi sejuta umat aja (bawaan dari kantor), liburan anak ke tempat yang dekat saja dulu, jalan ke mall dekat rumah selama barang yabg dicari ada di sana (nggak memaksakan diri ke mall-mall keren cuma untuk gaya), dan prinsip-prinsip lainnya.

Yaaa..semua orang memang ada jatah rejekinya masing-masing, tapi alangkah baiknya rejekinya yang berlebih untuk disedekahkan 🙂

 

 

 

 

Hotel’s Review at Solo Raya

Mari merekap hasil trip ke Solo bolak balik 8 kali dalam waktu 5 bulan di penghujung 2015. Hahaha…rekor banget deh, setelah Manado 6 kali bolak balik dalam 1 tahun di 2010-2011.

Dari hasil bolak balik 8 kali Jakarta-Solo ini, kali ini gw mau bahas tentang hotel yang gw singgahi selama berada di Solo Raya. Kenapa gw bilang Solo Raya? Karena selain kota Surakarta (yang biaaa dikenal kota Solo), Solo Raya mencakup 6 Kabupaten/Kota lainnya di sekitar kota Surakarta. Jadi Solo Raya ini keresidenan yang terdiri dari 7 Kabupaten/Kota yang saling berdekatan dan terhubung. Apa saja yang termasuk residen Solo Raya?
1. Kota Surakarta
2. Kab. Sukoharjo
3. Kab. Klaten
4. Kab. Wonogiri
5. Kab. Boyolali
6. Kab. Karanganyar
7. Kab. Sragen
Yap, itulah bagian dari Solo Raya. Gw pun baru tahu tentang ino setelah berurusan dengan Solo yang indah dan antik ini. 🙂

Lanjut tentang review hotelnya, setelah sedikit pengetahuan umum tentang Solo. Selama kita Solo, gw dan tim menginap di hotel-hotel berikut ini:
1. Hotel Royal Heritage, Surakarta
2. Hotel Grand Tjokro, Klaten
3. Hotel Aziza, Surakarta
4. Hotel Lor in Solo
5. Hotel Paragaon Residence, Surakarta
6. Hotel Best Western, Sukoharjo
7. Hotel Novotel, Surakarta

Dua kali ke Solo menginap di Hotel yang sama. Dan berikut yang bisa gw ulas dan review beberapa dari tujuh hotel di atas.

Check it out my next post 😉