Pumping saat traveling?

Masih pumping  tapi harus traveling ke luar kota? Ini dia peralatan yang mesti dibawa dan bisa dimanfaatkan di tempat penginapan.Sebetulnya udah sejak lama mau berbagi tentang peralatan tempur perpompa-asian saat sedang traveling. Keinginan menulisnya maju mundur cantik terus, akhirnya baru hari ini kesampaian untuk menulis. Awal saya traveling sambil bawa perlengkapan pompa asi dkk itu tahun 2013. Anak saya yang pertaman, Kakak Kiya, saat itu baru berusia 4 bulan. Saya sampai googling ke sana kemari bagaimana manajemen memompa asi saat traveling. Dari awalnya deg-degan dan ribet banget, sekarang saya udah lebih santai dan mahir deh..hehe ๐Ÿ˜€
Yuk disimak-simak, semoga bisa jadi masukan buat emak-emak yang lagi bingung di kala harus memompa asi saat traveling.

Apa saja yang wajib dibawa dari rumah?

  1. Pompa ASI / Breast pump. Yup, ini nomor 1 yang wajib dibawa, jangan sampai ketiggalan bahkan sampai perintilannya juga, kalau ada yang ketinggalan ya bisa ngga beroperasi pompanya. Solusi kalau lupa, terpaksa marmet alias memerah pakai tangan. Siap-siap capek ya buu..atau beli baru di baby shop tempat traveling, siap-siap keluar budget lebih.
  2. Cooler bag. Wajib dibawa banget buat bawa pulang ASIP yang sudah diperah. Atau buat simpan ASIP sementara saat belum ketemu kulkas di tempat penginapan, dengan kondisi ice gel/ice pack masih dingin.
  3. Ice gel/Ice pack. Buat pendingin ASIP di dalam cooler bag. Jadi baiknya sebelum berangkat dari rumah, ice gel/pack ini disimpan lama dulu dalam freezer, baru dikeluarkan dan taro dalam cooler bag sesaat mau pergi. Jangan sampai kelupaan, pengalaman saya sendiri pernah lupa..haha. Setidaknya ice gel/pack masih bisa mendinginkan cooler bag sampai 8 jam atau lebih. Nah, saat sudah tiba di tempat penginapan, ice gel/pack ini langsung taro di freezer. Bawalah ice gelpack minimal 2 buah atau lebih, jadi saat kita taro freezer penginapan, 1 bisa dibawa saat jalan-jalan di luar penginapan, sisanya bisa tetap di freezer hotel sampai kita pulang.
  4. Kantong ASIP/Botol ASIP. Saya pribadi lebih senang menggunakan kantong ASIP daripada botol, alasannya lebih ringan dan nggak makan tempat. Selain itu lebih aman jika dibawa bepergian dengan pesawat terbang, yang kadang membatasi bawaan cairan dalam botol. Saya biasanya membawa sesuai lamanya traveling, misalnya sehari saya pakai 4-6 kantong dikali sekian hari.
  5. Nursing apron. Ini pilihan disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing yaa.. Misal mau pumping di luar kamar, jadi bisa gunakan nursing apron untuk menutupinya. Kalau saya sendiri, tidak membawa nursing apron, saya menggantinya dengan mukena saja. hehe…

Untuk mengurangi bawaan yang buanyak dan ribet selama traveling di kala harus memompa asi, kita pun harus bisa memanfaatkan barangbarang yang ada di hotel tempat kita menginap. Barang di hotel yang bisa dimanfaatkan untuk proses pumping, yang biasa saya gunakan selama ini

  1. Kulkas/ Freezer. Sampai kamar hotel, saya cek kulkasnya, ada atau tidak?, dingin banget atau dingin biasa?,  ada freezer atau tidak?. Kalau beruntung, ada kulkas yang diginnya mantap dan ada freezernya meski kecil tapi bisa untuk beku-in ice pack yang saya bawa. Atau kalau tidak ada freezernya, saya suka titip ke bagian restoran hotel untuk dibekukan di freezer mereka.
  2. Kettle/pemanas air. Ini wajib dimanfaatkan sebagai alat steril botol2 pompa asi, caranya dengan masak air panas dan kemudian rendam peralatan pompa asi, sebelumnya pompa asi dibersihkan dulu
  3. Sikat gigi hotel. Sikat gigi ini saya manfaatkan buat sikat botol dan peralatan pompa, kalau lupa bawa sikat botol yang kecil
  4. Air panas dari kran. Untuk cuci botol yang sambil disikat
  5. Handuk kecil/tisu. Untuk tatakan botol dan pompa asi ketika sudah direndam air panas
  6. Hair dryer. Kalau ada hair dryer di kamar mandi hotel, bisa juga dimanfaatkan buat pengering alat pompa asi sekalgus sterilisasi

Ini pengalaman saya sdi dunia per-pumping-an saat harus dinas ke luar kota. Alhamdulillah selama ini berjalan lancar, nggak kebingungan lagi mesti gimana-gimana. dari semua itu yang berat adalah niat, iyap niat yang harus ngotot banget untuk terus memompa asi di mana pun dan kapan pun. Haha… Semanga mengASIhi si buah hati :*

Iklan

2018: Masih adakah semangat menulis?

saat saya tulis postingan ini, tidak terasa udah di bulan ketiga tahun 2018. Sebetulnya banyak sekali ide-ide yang ingin saya tuliskan. Tetapi kendalanya banyak jugaaa.. malas adalah yang paling kontribusi terbesar ^^. Coba ah saya tuliskan kenapa saya amat jarang posting di blog ini;

  1. Antara ide yang keluar dan waktu untuk menulis seringnya nggak bersamaan. Nah, saat ada kesempatan menulis, justru ide saya udah buyar blas
  2. Sulit mencari kata-kata yang tepat untuk di posting. Ini akibat kurangnya literasi saya, jam terbang minim, dan terlalu (sok) mencari tulisan yang perfeksionis atau terpengaruh gaya tulisan orang lain, yang nggak sesuai diri saya
  3. Mau coba2 berbagai fitur di blog, tapi apa daya kurang canggih dalam teknologi..hahaha. Akhirnya bosen coba sana sini, terus batal nulis deh
  4. Saya belum bisa memberi tema/feeds blog saya sendiri, jadi kurang terkonsep apa saja yang mau ditulis/posting
  5. Ketidakpercayaan diri saya dalam mem-publish hasil tulisan sendiri
  6. Saya suka merekam momen tetapi seringkali melewatkan untuk mengabadikan momen dengan dokumentasi

Nah, kira-kira hal tersbeut di atas yang bikin saya jarang sekali memposting tulisan di blog ini. Saya rajin blogging ke laman orang lain untuk cari inspirasi, tapi kadang terjebak sendiri. hahaha…

Yowes, mudah-mudahan tahun 2018 ini lebih aktif menulis, minimal laporan jalan-jalan yang biasa saya posting di Tripadvisor…xixi.

_mamamel yang lagi menunggu unduhan ms.office_

 

Melihat Merapi dari Dekat

Pengalaman baru ke Jogja kali ini, diajak jalan-jalan wisata Gunung Merapi. InsyaAllah lagi aman, lagi nggak erupsi :). Pergantian boss baru pada bulan lalu, yang ternyata pak Boss ini suka mampir ke wisata alam di tempat kita dinas, apalagi sembari mampir untuk monitoringย program ke masyarakat desa-nya.
*Menuju Jogjakarta

Rabu 7 Maret 2018, kami berangkat ke Jogjakarta dan bermalam di Hotel Grand Ambarrukmoย yang nggak jauh dari Bandara Adi Soecipto dan sebrangan dengan mall Ambarrukmo Plaza (Amplaz). Saya baru kali ini menginap di hotel ini, hotelnya tidak terlalu besar tapi penataan interiornya bagus sekali, bener-bener konsisten temanya dari lobby, restaurant, koridor, sampai kamarnya. Breaksfastnya juga enak dan variasi yang lumayan beragam. Harga per malamnya 750 ribu.

*Balai Ranti – Klaten

Esok harinya, Kamis tanggal 8 Maret 2018, pagi-pagi sekali kami berangkat menuju Balai Ranti di Kabupaten Klaten – Jawa Tengah. Perjalanan sekitar 1 jam lebih dari tempat kami menginap, alhamdulillah kami masih dapat pemandangan bagus Gunung Merapi, yang belum ditutupi kabut kalau siangan.

Pemandangannya…Masya Allah luar biasa sekali. Indah, segar, dan hijau. Dibalik ancaman bencana erupsi, Gunung Merapi menyimpan keindahan yang luar biasa. Bersama rekan-rekan kerja, nggak lupa kami ambil foto di sana, dengan tempat yang telah disediakan untuk foto-foto.

Bali di Bulan Februari

Kembali lagi ke Pulau Bali, kali ini tujuannya ke kawasan Nusa Dua. Jarak tempuh sekitar 1 jam dari Bandara Ngurah Rai ke arah tenggara, udah sama macetnya. Menginap di Bali selama 5 hari 4 malam, dari tanggal 19 sampai dengan 23 Februari 2018. Sebagian besar waktu akan dihabiskan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) karena ada acara kantor selama 3 hari di sini.
*Hotel Novotel Nusa Dua Bali*

Selama empat malam, kami menginap di Hotel Novotel Nusa Dua. Jangan tanya hotelnya kaya apa? Karena hotel di Bali bagi saya belum ada yang mengecewakan dari fasilitasnya, apalagi ini Hotel Novotel di Nusa Dua pula? Kereeeenn… Lagi-lagi mengahbiskan waktu di hotel saja udah cukup bagi saya, kalau mau cari liburan yang menenangkan. Dari kamarnya yang cukup besar dan fasilitas lengkap plus bathub-nya. Suasana hotel yang ada tamannya, kolam renang, resto, area bermain anak. Karena bukan dekat pantai, jadi nggak ada private beach-nya.

Saya dibuat surprise lagi saat malam kedua, suami yang kebetulan dinas bareng, baru akan check-in di malam kedua saya di Bali. Ternyata kamar dia di upgrade ke tipe Suite Room, harusnya di Deluxe Room. Ohya, harga kamarnya per malam 1,3 juta untuk Deluxe Room dan 1,8 juta untuk Suite Room. Saat masuk kamar Suite, wooow ini mah apartemen! Ada ruang tamu, pantry, ruang makan, balkon yang besar, dan dua kamar tidur serta kamar mandinya yang terpisah.

Dan lebih senangnya lagi buat saya yang harus memompa asi, ada kulkas besar yang freezernya gede, tempat cuci piring plus sabunnya, dan kettle air panas untuk sterilin botol. Alhamdulillah… ๐Ÿ˜€

Ini kamar diperuntukkan buat keluarga yang stay lama. Secara bule-bule banyak yang menetap agak lama kalau ke Bali kayanya yaa..

Saya coba share video kamar Suite Room alias family room ๐Ÿ˜€

*Bali Nusa Dua Convention Center*

Acara kantor diselenggarakan di BNDCC, letaknya nggak jauh dari tempat kita menginap, masih satu kawasan sih, sekitar 5 menit dengan mobil. Kalau mau niat, jalan kaki juga bisa sih, tapi kan orang kita terkenal malas jalan kaki jauhnya. Haha..

Tempat ini besar banget untuk tempat meeting-nya. Ada tiga gedung yang berhubungan, satu gedung ada ballroom yang super besar, dan beberapa ruang rapat agak kecilan sebanyak 3 lantai, gedung lainnya yang isinya meeting room semua. Saya suka banget dengan BNDCC ini, karena mampu dalam menggelar acara besar dengan kapasitas tamu sampai 3000-an dengan amat baik. Kenapa baik? Selama acara, AC selalu dalam keadaan dingin di semua ruangan dan setiap lantai, ruangan dan koridor bersih selalu, sound system bagus banget, pencahayaan alias lampu juga berfungsi amat baik, toilet ada di beberapa tempat dan semuanya bersih plus selalu ada tissue, snack dan makanan nggak pernah kekurangan, plus staf banquet dan staf restonya jumlahnya banyak dan standby. Selain itu rasa makanan juga enak dan musholla disediakan satu ruang besar, mengingat tamu banyak.

Puas banget selenggarakan acara besar di tempat ini, hampir nggak ada missed-nya selama acara berlangsung. Dari fasilitas, ruangan, dan stafnya semua mendukung dengan baik.

*Pantai Pandawa*

Di sela padatnya acara kantor, kita sempatkan diri bermain ke luar area BNDCC. Tujuan kita nggak jauh dari Nusa Dua, yaiut Pantai Pandawa. Saya baru sekali ini ke Pantai Pandawa, letaknya ada di selatan Pulau Bali, tapi saya sering dengar bahwa tempat ini salah satu tujuan wisata di Bali.

hampir tiba di Pantai Pandawa, kita disuguhi bukit batu besar yang di beberapa dindingnya dibuat cerug untuk meletakkan patung-patung dewa/dewi Hindu. Tiba di pantainya, masya Allah indah warnanya, air biru, pasir putih-coklat muda, dan masih bersih. Pantai ini menjadi tujuan wisata bagi turis lokal (orang Indonesia), saya hanya melihat 2-3 orang bule saat di sana dan ratusan turis Indonesia terutama rombongan study tour dari sekolah-sekolah se-Indonesia.

Parkirannya lumayan luas karena untuk menampung bus-bus rombongan, banyak menjual jajanan di warung-warung kecil, sebagian besar jual air kelapa, makanan warteg, jajanan kecil, ada juga toko souvenir jual baju-baju. Sebagian besar makanan halal, karena yang berjualan banyak yang dari Jawa. Kami pun sempat menikmati air kelapa langsung dari batoknya, ditemani batagor dan cireng bandung. Alhamdulillah…

*Makan malam di Jimbaran*

Malam sebelum kembali ke Jakarta esok harinya, kami menyempatkan diri makan malam bersama di Jimbaran. Lumayan malam kami tiba di sana, untungnya masih bisa pesan makanan. Kami rombongan ada 20-an orang, pesan menu utama seafood serta sayurannya. Sebelum makan utama dihidangkan, kami disuguhi sup telur jagung yang sudah tidak hangat lagi, agak lama menunggu sampai hidangan utama datang. Saat makanan utama sudah disajikan, kita langsung melahapnya dan alhamdulillah ikannya enak banget. Saya sampai habis banyak makan ikannya, ikannya segar dan bumbunya enak.

Malam itu di Jimbaran, ditemani tawa canda teman-teman, nyala lilin, angin laut, beratapkan langit malam dengan sedikit bintang, dan makanan enak…Suasananya dapet banget, rasa makan di Jimbaran ๐Ÿ˜€

Bali, jadi turis sehari di Kuta

Masih menyambung trip ke Bali di bulan Januari 2018, sebelum kembali ke Jakarta, kami sempat bermalam di kawasan Kuta. Alasannya agar esok ke bandaranya lebih dekat ketimbang dari Karangasem. Alasan lainnya jelas karena mau jalan-jalan dulu, beli oleh-oleh, dan menikmati kuliner lain yag dijamin halal. Di Karangasem susahnyaa cari makanan halal…hehe.

Saat tiba di Kuta pukul 9 pagi, hotel belum bisa check-in. Jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan dulu, sendirian. Iya beneran sendirian. Dua teman saya ada acara masing-masing. Dari hotel di jalan kartika, saya terus berjalan ke arah utara, Jalan Kuta dengan jalan kaki. Sambil lihat-lihat tempat makan yaaang sebagian besar nggak halal..haha. Sampai tiba di Pantai Kuta, yang ternyata makin ramai dengan bangku-bangku berbayar alias kalau mau duduk di bangku minimal beli minum atau kursi malas mesti bayar juga (info dari ibu-ibu pijat), saya nggak menikmati banget Pantai Kuta ini, ditambah banyak yang menjajakan jasa-nya. Saya pun akhirnya ambil jasa pijat oleh ibu tua, lagi enak-enak dipijat, datang ibu jasa meni pedi yang agak memaksa untuk dipakai jasanya, lalu datang lagi ibu penjaja pakaian Bali. Hasilnyaaa..saya merogoh ratusan ribu hanya dalam beberapa menit saja di Pantai Kuta, tanpa menikmati indahnya pemandangan Kuta (emang nggak ada yang dilihat juga siih..), hahaha…

Perjalanan saya lanjut ke utara, hampir tiba di Jalan Legian tapi urung karena perut sudah lapar. Saya pun mencari tempat makan halal via Google, dapet yang dekat, langsung petunjuk arah ke sana, jalan kaki lagi sambil menikmati toko-toko souvenir. Sempat nyasar karena saya menghindari jalan kecil, masih ada rasa ngeri soalnya..haha. Akhirnya sampai juga di tempat makan yang saya cari.

*Nginap dimana?

Saya booking Hotel Bintang Kuta dengan harga 650 ribu per malam, saat mau check-in, ternyata ada masalah atau kamar penuh, jadinya kamar kami di upgrade hotel sebelah, Hotel Ramada. Hasil searchingan saya sebelumnya, Hotel Ramada ini rate-nya 1 jutaan per malam, tapi karena kebijakan hotel maka saya tetap membayar 650 ribu saja. Alhamdulillah…

 Hotel Ramada ini adalah hotel lama yang punya area luas banget, kamarnya juga luas, ada private beach, halaman hijau asri yang luas juga. Satu kata untuk Ramada adalah Luas. hahaha… Cukup jalan-jalan di hotel aja udah puas karena ada pool, private beach, dan tamannya.

*Wisatanya kemana saja?

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, kita bisa wisata jalan-jalan sepanjang Jalan Kartika, Jalan Kuta, Jalan Legian, dan pantai. Mampir ke toko-toko souvenir, jelajah jalanan kecil di Bali, mampir ke tempat makan yang banyak banget, kalau mau neduh ke minimart juga banyak sambil beli minuman dingin, tempat spa juga tinggal pilih mau masuk yang mana. Pokoknya ini Bali banget menurut saya, versi kotanya.

Untuk kuliner, saya utamakan tempat makan halal. Siang hari saat jalan-jalan sendirian, saya ke warung makan Nikmat, isinya kaya warteg gitu, berbagai macam lauk-pauk ada. Saya pilih yang biasa-biasa saja kaya telur, sayur, orek tempe, kerupuk, dan air jeruk, nggak lupa sambal. Alhamdulillah beneran nikmat..hehe.

Malam harinya, bersama teman-teman makan malam di Ayam Betutu Gilimanuk. Nggak usah jauh-jauh ke Gilimanuk, ada kok restonya di Kuta. Seperti biasa, saya suka makan ayam betutu di sini, rasanya tuh pedas-pedas segar…bahkan ada yang lebih pedasnya lagi. Nggak kuat deh lidah saya kalau lebih pedas lagi. Di sini juga jual Sate Lilit khas Bali, yang sayangnya malam itu sudah habis. Hiks. Sate lilit ini bisa dibawa sebagai oleh-oleh, jadi sebelum ke bandara, mampir ke sini dulu. 

*Tempat belanja oleh-oleh?

Selain toko-toko souvenir di sepanjang jalan, kita bisa mampir ke Toko Khrisna 24 jam di Kuta, sebrang jalan dari Ayam Betutu Gilimanuk. Apa pun ada di Khrisna ini, dari pakaian, pajangan, sampai makanan. Untuk oleh-oleh makanan, saya beli Pie Susu merk Enaaak yang saya beli di tokonya langsung di Jalan Legian, saya ke sana dengan gojek. Di Khrisna, saya beli makanan kacang koro, pie susu tambahan, dan pakaian untuk anak-anak. Udah itu aja, saya udah nggak kalap lagi kalau belanja di Bali karena yaa udah ada yang sebelumnya..hehe.

 

Dimana pun tempat di Bali, bawaannya memang selalu ingin liburan. hehehe.. ๐Ÿ™‚