Proses Kelahiran Anak ke-2…(1)

Alhamdulillahirrobil ‘alaamiin..
Telah lahir putri kedua kami, Kamila Alesha Nugroho, pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2017 pukul 22.23 WIB. Si kecil lahir di usia kandungan 37 minggu dengan BB 2800 gram dan PB 47 cm.

image

Dan cerita kelahiran anak keduaku, ternyata tidak semudah yang aku harapkan dan jauh dari apa yang aku usahakan selama kehamilannya. Semua kembali kepada takdir Allah SWT, pasrah sepasrahnya. Mungkin dalam ceritaku ini masih nyelip rasa “tidak terima”, tapi aku berusaha ikhlas menerima apa yg telah Allah gariskan. InsyaAllah..mohon ampunan dan petunjukMu Yaa Allah.

—Flashback—
Terakhir kontrol kandungan sama dr.Laksmi di Rsb.Duren tiga, pas uk 33 minggu tanggal 23 Desember 2016. Alhamdulillah keadaan janin bagus dan aku juga sehat.

Harusnya kontrol lagi 2 minggu kemudian (tanggal 14 Jan 2017), tapi saat itu kondisiku lagi nggak enak jadi batal kontrol.

Hari Senin 16 Jan 2017, aku masuk kerja seperti biasa dan karena udah merasa gampang lelah, aku memutuskan mau ambil cuti mulai minggu depan. Jadi seminggu di kantor persiapan mau cuti, termasuk bikin surat cuti. Ternyata untuk ajukan cuti melahirkan harus ada surat pengantar dr dokternya. Karena RS tempatku kontrol jauh dr kantor, dan pekerjaan yg harus kuselesaikan sebelum cuti banyak, jadi nggak sempat mampir ke RS. Sampai hari Jumat tanggal 20 Jan 2016 tiba, sedangkan aku mau cuti hari Senin besok!

Jumat, 20 Jan 2016
Kondisiku makin gampang lelah karena perut yg membesar, dan kaki gampang bengkak. Sehabis makan siang, aku memutuskan pergi ke RS.Tambak yang dekat dengan kantor, untuk kontrol sekalian minta surat pengantar cuti melahirkan 3 bulan. Datang ke RS sendirian, tiba di sana ditangani dr.Dwi Rahmawaty. Yang bikin kaget, hasil tensiku tinggi 140/100, masyaAllah. Aku mulai curiga dgn keadaanku dimana kaki bengkak dan tensi tinggi.

Pas masuk ke ruanh dokter, diperiksa bahwa kondisi janin bagus. BB normal dan air ketuban banyak. Sampai dokter sadar tensiku yg tinggi. Diminta cek ulang lagi, dan hasilnya 150/100 dgn 2x cek. Pantes kepala dan tengkukku 2 hari ini sakit kaku. Dokter saran utk cek urinku.

Sambil menunggu hasil urin, aku sholat berharap semoga aku sehat2 saja. Takdir Allah..hasil urinku terdapat keobocoran protein +3 (paling tinggi). Kesimpulan: aku pre eklampsia sedang.

Saran dokter: aku harus segera rawat inap untuk induksi atau langsung operasi agak melahirkan secepatnya.

Aku: shock!

Dokter Dwi akhirnya kasih catatan untuk dibawa ke dokter laksmi. Sehingga aku masih bisa konsul ke dokter biasanya. Aku balik ke kantor dalam keadaan makin pusing dan stres..astaghfirullah…

Plesiran: Makassar dan Mamuju

Yeah, as usual this is a duty’s traveling. Haha. Tapi setidaknya sempat merasakan menginap di hotelnya, makanan khasnya, jalanannya, dan pemandangannya. Meski tujuannya cuma kantor daerah dan hotel. Hehe..

First Destination: Makassar
8 Juni pagi-pagi buta gw udah jalan menuju bandara SHIA, makan sahur di jalan dibekalin mama. Penerbangan paling pagi menuju Bandara Sultan Hassanudin Makassar di Maros. Tepat jam 9 pagi waktu Indonesia tengah, tiba di Makassar. Langsung menuju kantor daerah di kota Makassar. Daaaan..sampai jam 11 malam nongkrong di kantor daerah ini aja, dengan bekal buka puasa makanan padang (lah?) Hahaha…

Tiba di hotel Aryaduta jam 12 kurang waktu setempat, alhamdulillah nempel sama kasur juga. Tengah malam, sama teman kantor pesan Coto Makasar via go-food (thanks masih ada go-food tengah malam di Makasar), dan akhirnya menikmati makanan khas Makasar juga.

Bangun pagi-pagi, dan nggak sahur karena baru tidur jam setengah 2 pagi setelah makan coto makasar pake ketupat. Sehabis mandi dan packing (lagi), kita berdua jalan-jalan di depan hotel yang langsung berhadapan dengan pantai fenomenal Makasar, Pantai Losari. Panas terik menerjang kita hajar deh demi dapat foto (eh?). Kalau dulu pertama kali ke Makasar tahun 2011, hanya ada tulisan besar Pantai Losari. Tetapi kini banyak tulisan besar lainnya di sekitar pantai, seperti tulisan Makasar, Bugis, dll. Jalan-jalan di pinggir pantai yang terik sekitar 500 meter lebih dan foto-foto tiap ada tulisan besar atau patung di sana..Hahaha.
image

image

image

image

Pantai Losari kini, Juni 2016

Jam 9 lewat, kita kembali ke hotel, ambil tas di concierge dan langsung cabut menuju bandara lagi. Sebelum ke bandara, mampir ke Jalan Somba Opu, tempat jajaran toko oleh-oleh di Makasar. Kita mampir ke satu toko saja (karena waktu mepet), ke Toko Ujung. Tiba di Toko Ujung, bau kopi menguar, haruuuum banget. Masya Allah kalau nggak inget puasa (dan punya penyakit maag), rasanya pengen pesan atau beli kopi di sana. Alhasil gw hanya membeli pesanan orang rumah, minya tawon tutup putih yang harganya semakin Wow, dan sebungkus keripik bawang pedas untuk camilan nanti.
image

image

image

image

Toko Ujung, toko oleh-oleh di Jalan Somba Opu-Makassar

 

Second Destinantion: Mamuju – Sulawesi Barat

Jam 11 siang, kami terbang lagi menuju Mamuju – Sulawesi Barat dengan pesawat Wings baling-baling selama setengah jam lebih. Tiba di Bandara Tampa Padang Mamuju, kami sudah dijemput dan langsung melaju ke pusat kota Mamuju yang ditempuh 45 menit dari bandara dengan jalan berliku aduhai, mulai pusing kepala gw (mana lagi hamil muda pula). Alhamdulillah tengah hari kita sudah tiba di Hotel D Maleo Mamuju, satu-satunya hotel besar di kota ini. Istirahat sebentar (dan ketiduran) sampai waktu berbuka hampir tiba. Kami pun dibawa makan berbuka puasa di warung ikan bakar, khas Mamuju sini makanan adalah ikan bakar. Alhamdulillah bumbunya enak dan ikannya segar. Selesai makan, kami kembali ke hotel lagi untuk istirahat.
image

image

Jadwal esok hari: Kerja seharian di kantor daerahnya. Nggak usah diceritain yaa..haha.

Diajak makan berbuka (yang telat) di warung ikan bakar lagi, kali ini gw bisa lebih menikmati makannya, karena lebih enak bumbu ikannya. Jam 10-an malam kami sudah tiba di hotel kembali.
image

image

Esok harinya, kami kembali ke Jakarta, dari Bandara Tampa Padang Mamuju dengan pesawat Wings Air baling-baling (entah jenis pesawatnya apa), transit di Bandara Sulatan Hasanudin Makasar sekitar 1 jam kurang. FYI, Bandara Sultan Hasanudin yang dulu gw kagumi dengan besar dan luasnya, saat gw transit di sana hari itu, bandara sedang di renovasi yang menurut gw membuat bandara jadi terlihat sempit dan nggak keren lagi. Hehe. Nggak tau deh kalau renovasinya udah selesai nanti.

Ternyata gw nggak transit lama-lama di bandara Makasar, karena pesawat Batik Air kita udah siap mengangkut penumpang sebelum jadwal boarding. Wow. Ini pertama kali gw naik Batik Air, ternyata jadwal boarding lebih cepat dari yang tertulis di boarding pass, interior pesawat lebih lega dari “saudaranya”, jarang antar kursi lebih nyaman, ada layar TV juga di setiap bangku, waaah..tapi kita harus sedia earphone untuk menikmati audionya (pakai earphone hp juga bisa) atau membeli 25 ribu di atas pesawat. Dua jam perjalanan, kami tiba di bandara SHIA Jakarta.

 

Kehadiran Nomor 2 :)

image

Alhamdulillah berkah bulan puasa tahun ini, gw dan keluarga mendapatkan kabar gembira dari Allah. Sore hari di hari pertama puasa, entah ada angin apa membeli testpack. Padahal jadwal siklus mens gw baru telat 1 hari, ini hal biasa bagi gw. Gw cuma merasakan feeling (ooh..wanita sekali..haha), karena “ehem” berhubungan sama suami bulan Mei lalu pas masa kesuburan gw, fyi gw punya aplikasi masa kesuburan-siklus mens di smartphone gw. Terus, 3-4 hari sebelumnya gw merasakan mual (biasanya maag) di jam pagi (setelah sarapan) sampai sore, lepas maghrib hilang deh mual-mual ala maag itu.

Coba-coba beli testpack sepulang kerja dan kemudian..taraaa, hasilnya dua garis samar. Huwaaah..bener-bener nggak sangka :))). ALHAMDULILLAH.

Dimana gw sudah berniat menambah anak sejak tahun lalu (pas Kiya usia 2 tahun) dan ingin punya anak yang lahir bulan Februari juga, alasannya karena di keluarga gw nggak ada yang kelahiran Februari (haha..alasan simpel). Dan kalau ikut perhitungan HPHT (Hari pertama haid terakhir), insyaAllah bayi ini akan lahir di bulan Februari. Masya Allah.

Semoga tumbuh kembang sehat, normal, kuat ya Nak di dalam perut mama, sampai waktu yang dicukupkan dan terlahir dengan lancar dan mulus ke dunia tanpa kekurangan, normal dan sehat. BISMILLAH..mari menjalankan 9 bulan yang indah ini kembali..

Welcome adiknya Adzkiya… :*

Pengaruh dunia maya terhadap gaya hidup

Haiiiaaah..judulnya macam mau penelitian aja. Tapi monggo kalo ada yang terinspirasi :P.

Di jaman setiap orang serba pegang smartphone ini, koneksi internet dimana-mana, dan media-media sosial yang amat menarik, perhatian manusia-manusia di dunia nyata sebagian besar teralihkan ke dunia maya. Hai Maya :P.

Termasuk gw dan blog ini, hahaha.. Awal mula orang selancar di dunia maya tak lain hanya untuk chatting dan email, kemudian game online. Seiring jaman, berkembang akun media sosial dimana orang saling terkoneksi di belahan dunia manapun, apalagi ketemu teman lama juga mantan (eh!). Ketagihan orang-orang akan media sosial lama-lama maknanya bergeser, jadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Yes, betul!!

Ajang “pamer” pun mulai merajalela di dunia media sosial. Mulai dari posting foto, tempat makan, tempat liburan, bahkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan juga semuanya di posting (tentu yang keren dan mahal yang diposting). Kemudian “teman-teman” media sosialnya merasa, Wah si A keren, si B cool baget, si C cantik, si D tajir….dan lain-lain sesuai ekspektasi di pemosting. Efek berikutnya, yang suka perhatiin postingan-postingan “teman media sosialnya” juga terpicu untuk unggah postingan yang keren-keren pula, mulai saling membandingkan, memaksakan diri datang ke tempat ini-itu yang lagi hits di dunia media sosial, punya barang canggih bin mahal, pakain dengan fashion ter-update (cocok nggak cocok dibeli deh pokoknya), daaaan lainnyaaa…

Sempat fenomena ini “mengganggu” gw, tepatnya di saat gw baru memiliki si kecil. Entah kenapa gw sangat terpengaruh komunitas dari media sosial yang selalu memajang foto anaknya dengan barang A, tersu review stroler B, baby bag merk C, dan lainnya. Keinginan gw pun untuk memiliki baju-baju, stroller, high chair, gendongan yang brand bagus dan harganya tentu nggak murah. Dan kalaplah gw saat itu, beli stroler baru, beli high chair baru, beli breastpump baru, beli baju brand mahal, dan mainan mahal (yang nggak penting banget) untuk anak…untung kalapnya gw terbatas di asupan keuangan ;P. (ini standar mahal gw juga nggak tinggi-tinggi juga..haha).

Waktu berlalu, dan gw pun sadar bahwa anak nggak butuh itu semua. Yang dibutuhkan anak adalah pakaian yang bahannya nyaman serta ukuran pas (tidak kekecilan dan kebesaran), produk-produk perawatan juga yang penting bahan aman dan cocok di kulit anak, dan gw juga lebih suka mengajarkan anak jalan kaki sendiri ketimbang bawa stroler kemana-mana, peralatan makan dan botol susu juga cari bahan yang aman untuk makanan dan tahan panas, mainan juga kalau bisa buat atau beli yang murah meriah tapi tidak meninggalkan esensi mendidiknya (warning kepada anak untuk tidak memasukan mainan ke dalam mulutnya). Yap, pada akhirnya gw pun berdamai dengan ambisi. Ambisi ingin membeli barang brand terkenal dan mahal, baik untuk anak dan diri sendiri.

Apa pun masih gw lihat seliweran di media sosial dengan ke-keren-an masing-masing, udah nggak terlalu menyulut ambisi gw ingin ikut memiliki. Alhamdulillah, kini acuan gw kembali ke yang lama, membeli yang baru apabila benar-benar dibutuhkan saja. Kalau cuma “ingin”, masih bisa gw tahan setahannya, oke kecuali makanan enak (eh!). Gw sadar, pendapatan kita sebetulnya cukup banget untuk biaya hidup, tapi tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Alhamdulillah gw dan suami juga menolak memiliki kartu kredit, pakai asuransi sejuta umat aja (bawaan dari kantor), liburan anak ke tempat yang dekat saja dulu, jalan ke mall dekat rumah selama barang yabg dicari ada di sana (nggak memaksakan diri ke mall-mall keren cuma untuk gaya), dan prinsip-prinsip lainnya.

Yaaa..semua orang memang ada jatah rejekinya masing-masing, tapi alangkah baiknya rejekinya yang berlebih untuk disedekahkan 🙂

 

 

 

 

Hotel’s Review at Solo Raya

Mari merekap hasil trip ke Solo bolak balik 8 kali dalam waktu 5 bulan di penghujung 2015. Hahaha…rekor banget deh, setelah Manado 6 kali bolak balik dalam 1 tahun di 2010-2011.

Dari hasil bolak balik 8 kali Jakarta-Solo ini, kali ini gw mau bahas tentang hotel yang gw singgahi selama berada di Solo Raya. Kenapa gw bilang Solo Raya? Karena selain kota Surakarta (yang biaaa dikenal kota Solo), Solo Raya mencakup 6 Kabupaten/Kota lainnya di sekitar kota Surakarta. Jadi Solo Raya ini keresidenan yang terdiri dari 7 Kabupaten/Kota yang saling berdekatan dan terhubung. Apa saja yang termasuk residen Solo Raya?
1. Kota Surakarta
2. Kab. Sukoharjo
3. Kab. Klaten
4. Kab. Wonogiri
5. Kab. Boyolali
6. Kab. Karanganyar
7. Kab. Sragen
Yap, itulah bagian dari Solo Raya. Gw pun baru tahu tentang ino setelah berurusan dengan Solo yang indah dan antik ini. 🙂

Lanjut tentang review hotelnya, setelah sedikit pengetahuan umum tentang Solo. Selama kita Solo, gw dan tim menginap di hotel-hotel berikut ini:
1. Hotel Royal Heritage, Surakarta
2. Hotel Grand Tjokro, Klaten
3. Hotel Aziza, Surakarta
4. Hotel Lor in Solo
5. Hotel Paragaon Residence, Surakarta
6. Hotel Best Western, Sukoharjo
7. Hotel Novotel, Surakarta

Dua kali ke Solo menginap di Hotel yang sama. Dan berikut yang bisa gw ulas dan review beberapa dari tujuh hotel di atas.

Check it out my next post 😉

Hotel’s Review: Solo (1)

1. Hotel Royal Heritage Solo
Pertama kalinya ke Solo, langsung memilih hotel ini. Dan ternyata nagih, cukup 2 kata untuk menggambarkan hotel ini, Antik dan Cantik. Masuj ke loby utama gw langsung jatuh cinta sama hotel ini, masuk ke dalam kamar, aiiih ruangannya luas dengan harga yang masih terjangkau, fasilitas kamar lengkap dan bersih.

Menu makan pagi juga variatif dan rasa enak, gw selalu incar sweet corner dan baby orange yabg segar. Lokasi hotel ini juga strategis, dekat dengan Bakorwil, Pasar klewer sementara, pusat batik rumahan, dan jajanan khas Solo di sekitar hotel. So, nggak heran kali kedua ke Solo langsung booking hotel ini lagi.

image

image

image

image

image